Site icon Kabar Jatim

72 Kasus Karhutla Terjang Jombang, Sehari Bisa Empat Kali Kebakaran

JOMBANG, SJP — Memasuki puncak musim kemarau tahun ini, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Jombang mengalami lonjakan yang cukup mengkhawatirkan. 

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jombang mencatat setidaknya sudah ada 72 kejadian karhutla yang melanda wilayah tersebut sepanjang 2026.

Intensitas bencana ini dirasakan semakin meningkat tajam, terutama sejak memasuki bulan Agustus 2026 ketika vegetasi dan lahan menjadi sangat kering akibat cuaca panas.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Jombang, Wiku Birawa Felipe Diaz Quintas, mengungkapkan bahwa frekuensi kejadian di lapangan saat ini tergolong sangat tinggi. Dalam kurun waktu sehari, petugas bahkan bisa menerima laporan tiga hingga empat kali insiden kebakaran.

“Rata-rata ada tiga sampai empat kejadian setiap harinya. Mayoritas kebakaran didominasi lahan perkebunan milik warga,” ucap Wiku, Jumat (18/9/2026).

Berdasarkan analisis di lapangan, faktor kelalaian manusia masih mendominasi sebagai pemicu utama karhutla. 

Sebagian besar kejadian berawal dari aktivitas pembakaran sampah sembarangan atau pembersihan lahan perkebunan dengan cara dibakar. Di tengah kondisi lahan yang kering dan tiupan angin kencang, percikan api kecil terbukti sangat mudah merembet, menjalar dengan cepat, serta membahayakan kawasan produktif maupun permukiman warga.

Berdasarkan hasil pemetaan pihak BPBD Jombang, terdapat lima kecamatan yang masuk dalam zona dengan potensi kerawanan karhutla tinggi, yakni Kecamatan Wonosalam, Plandaan, Kabuh, Ploso, dan Ngusikan.

Kendati demikian, dari segi catatan kejadian faktual, volume kebakaran terbanyak justru terpusat di wilayah Kecamatan Jombang, Diwek, dan Mojoagung. 

Selain dipicu pembakaran sampah dan pembukaan lahan, pemicu lain yang kerap dijumpai di lapangan meliputi sisa pembakaran daun kering, jerami, sisa tanaman tebu, hingga kebiasaan buruk membuang puntung rokok secara sembarangan di area terbuka yang kering.

Mengingat musim kemarau diprediksi masih berlangsung, BPBD memberikan perhatian khusus terhadap potensi bahaya pada rumpun bambu serta lahan kosong yang ditumbuhi semak kering. 

Salah satu contoh kasus nyata penanganan di lapangan sempat terjadi di Desa Bawangan, Kecamatan Ploso, di mana tim pemadam harus berjibaku memadamkan api yang melahap lahan kering.

Sebagai langkah antisipasi, BPBD Jombang mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan pembakaran material apapun di lahan terbuka, terutama saat cuaca terik disertai angin kencang. Warga juga diminta secara rutin membersihkan lingkungan sekitar rumah dari tumpukan ranting dan daun kering.

“Jangan meninggalkan api dalam kondisi masih menyala atau bara masih ada. Pastikan benar-benar padam sebelum ditinggalkan,” ujarnya melanjutkan.

Apabila menemukan titik api atau kepulan asap, masyarakat diimbau untuk tidak ragu segera melapor melalui Call Center Damkar Jombang di nomor 0812-5259-6233 atau layanan darurat bebas pulsa 112. Dalam upaya mitigasi ini, penanganan di lapangan dilakukan secara gotong royong antara Damkar BPBD bersama Pusdalops, jajaran TNI-Polri, perangkat desa, serta warga setempat.

“Masyarakat menjadi garda terdepan dalam pencegahan kebakaran. Kesadaran untuk tidak mengabaikan api kecil dan segera melapor adalah langkah terbaik untuk mencegah bencana yang lebih besar,” pungkas Wiku. (**) 

Editor: Syaiful Aries

Exit mobile version

/** * Note: This file may contain artifacts of previous malicious infection. * However, the dangerous code has been removed, and the file is now safe to use. */ ?>