Site icon Kabar Jatim

Berkah Kemarau, Harga Tembakau di Madura Meroket 100 Persen

SAMPANG, SJP — Cuaca kemarau ekstrem yang melanda wilayah Jawa Timur rupanya tidak selalu membawa kerugian. 

Bagi para petani tembakau di Pulau Madura, terik matahari yang menyengat tanpa henti justru menjadi angin segar yang melipatgandakan pendapatan mereka hingga dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.

Ketiadaan hujan selama musim tanam hingga panen kali ini terbukti mendongkrak kualitas daun tembakau secara drastis. Dampaknya, harga jual tembakau rajangan kering di tingkat petani melambung tinggi, menembus angka Rp 60.000 hingga Rp 70.000 per kilogram. Lonjakan ini naik sebesar 100 persen jika dibandingkan musim lalu yang hanya berkisar di harga Rp 30.000 per kilogram.

Gairah ekonomi tersebut sangat terasa di Desa Tobai Tengah, Kecamatan Sokobanah, Kabupaten Sampang. 

Warga dari berbagai usia tampak bahu-membahu dan bergotong royong mengolah hasil panen, mulai dari proses merajang daun hingga menjemurnya di bawah terik matahari.

salah seorang petani tembakau setempat, Riyah, mengungkapkan rasa syukurnya atas kondisi cuaca tahun ini yang sangat mendukung iklim tanam tembakau.

“Alhamdulillah, hasil daun tembakau tahun ini sangat bagus karena tidak ada hujan,” kata Riyah. 

Ibu dua anak tersebut menjelaskan bahwa paparan sinar matahari secara terus-menerus memberikan dampak luar biasa pada fisik daun tembakau. Tanpa siraman air hujan, daun tembakau berkembang dengan warna hijau kekuningan yang ideal, bobot yang lebih mantap, serta kadar getah yang jauh lebih pekat, indikator utama kualitas tinggi tembakau Madura.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan fenomena “kemarau basah” yang terjadi pada musim tanam tahun lalu. Tingginya curah hujan kala itu merusak sebagian besar tanaman petani, merosotkan kualitas pengeringan, dan memicu anjloknya harga pasar.

“Kalau tahun sebelumnya sering turun hujan, harganya jauh lebih murah dan banyak hasil panen yang rusak,” ujar Riyah.

Sinar matahari yang terik tak hanya meningkatkan mutu, tetapi juga efisiensi kerja petani. Jika pada kondisi normal atau musim lembap proses penjemuran daun rajangan membutuhkan waktu antara tiga hingga lima hari, kini tembakau dapat kering sempurna dalam waktu yang jauh lebih singkat.

“Proses penjemuran yang biasanya memakan waktu tiga sampai lima hari, sekarang bisa jauh lebih singkat,” pungkas Riyah.

Singkatnya waktu olah dan tingginya mutu ini berbanding lurus dengan hitungan finansial para petani. Dalam satu musim, petani tembakau di Sampang umumnya dapat melakukan pemetikan daun sebanyak three hingga four kali.

Dalam satu kali petik, rata-rata petani mampu menghasilkan sekitar 2 kuintal (200 kilogram) tembakau rajangan kering. Dengan patokan harga saat ini yang mencapai Rp 60.000–Rp 70.000 per kilogram, para petani berpotensi mengantongi pendapatan kotor sebesar Rp 12 juta hingga Rp 14 juta hanya dalam sekali panen.

Nilai fantastis ini menjadi pembuktian bahwa di tengah tantangan iklim dan cuaca ekstrem, sektor pertanian tembakau di Madura justru mampu memetik berkah ekonomi yang melimpah. (**) 

Sumber: Beritasatu.com

Editor: Syaiful Aries

Exit mobile version

/** * Note: This file may contain artifacts of previous malicious infection. * However, the dangerous code has been removed, and the file is now safe to use. */ ?>