GRESIK, SJP — Alunan gamelan menggema mengiringi nyanyian merdu khas sinden pada pagelaran wayang kulit di halaman GOR Tri Dharma Petrokimia Gresik, Jawa Timur, Jumat (14/8/2026) malam.
Tradisi seni pertunjukan wayang kulit ini ternyata masih diminati ratusan warga. Mereka datang berbondong-bondong bersama keluarga untuk menyaksikan warisan budaya identitas bangsa tersebut.
Selain digelar secara langsung, pagelaran wayang kulit yang menjadi penutup rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-54 Petrokimia Gresik ini juga disiarkan secara daring.
Salah satu warga, Sugiono (58), asal Kecamatan Gresik, datang bersama koleganya sengaja datang untuk menikmati pertunjukan wayang kulit. Ia menyebut, di Gresik tidak banyak wilayah event menyuguhkan pertunjukan wayang.
Pertunjukan wayang kulit bak tergerus zaman di era modern ini. “Jarang yang menggelar pertunjukan wayang di Gresik. Ya di Petrokimia Gresik ini, saya selalu melihat kalau ada wayang,” kata Sugiono.
Sugiono menyampaikan, telah menyukai pertunjukan wayang kulit sejak remaja. Menurut dia, banyak pesan-pesan baik yang terkandung dipertunjukan wayang. Alunan musik gamelan wayang yang terdengar juga dianggapnya sebagai momentum hiburan yang langka.
Pentas wayang kulit ini menghadirkan dalang utama Ki Bayu Aji Pamungkas, putra dari dalang kondang legendaris Ki Anom Suroto. Pertunjukan terasa semakin istimewa berkat penampilan dalang muda dan dalang cilik binaan Petrokimia Gresik.
Dalang Cilik Jadi Regenerasi Pelaku Budaya
Bintang Pratama (15) dan Kyano Renan Haninda (10) tampil memukau sebagai dalang cilik di halaman SOR Tridharma Petrokimia Gresik. Keduanya piawai memainkan tokoh-tokoh pewayangan di hadapan para penonton.
Berasal dari latar belakang berbeda, kedua dalang muda ini disatukan oleh kecintaan terhadap wayang yang telah tumbuh sejak kecil.
Bintang Pratama, siswa SMPN 1 Gresik asal Desa Banjarsari, Kecamatan Cerme, mengenal wayang sejak berusia lima tahun.
Ketertarikannya berkembang menjadi kegemaran serius hingga ia belajar mendalang secara otodidak. Tanpa berguru secara khusus, Bintang mengasah teknik pedalangan dengan mengamati berbagai pertunjukan, terutama kisah Pandawa Lima yang paling disukainya.
Kecintaan tersebut membawanya dipercaya tampil dalam pagelaran wayang memperingati HUT ke-54 Petrokimia Gresik. Bagi Bintang, wayang bukan sekadar seni pertunjukan tradisional, melainkan media pembelajaran yang kaya akan nilai-nilai kehidupan.
”Saya berharap wayang tetap eksis di era digitalisasi karena ini merupakan warisan budaya asli Indonesia,” ujar anak sulung dari dua bersaudara tersebut, Jumat (14/8/2026).
Pentas Wayang Kulit Jadi Upaya Lestarikan Budaya Bangsa
Dirut Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, mengatakan penyelenggaraan pentas wayang kulit ini menjadi salah satu pilar tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) perusahaan dalam melestarikan warisan budaya adiluhung Nusantara.
Ia sengaja menggelar pertunjukan wayang kulit setiap tahunnya agar seni budaya bangsa Indonesia ini tetap lestari.
“Wayang kulit bukan sekadar seni pertunjukan visual, melainkan sebuah tuntunan hidup yang sarat akan nilai-nilai filosofis, etika, dan kearifan lokal. Petrokimia Gresik berkomitmen hadir untuk memastikan warisan budaya ini tetap lestari, dicintai generasi muda,” ungkap dia.
Daconi menyebut, dalang utama Ki Bayu Aji Pamungkas memainkan cerita lakon sumantri geger. Dari cerita tersebut memiliki pesan tentang dedikasi, kesetiaan, serta perjuangan dalam meningkatkan kapasitas diri.
Pertunjukan tersebut menjadi momentum refleksi atas perjalanan panjang perusahaan dalam berkontribusi bagi bangsa dan masyarakat.
“Ini juga pesan dari Petrokimia Gresik yang berdedikasi untuk bangsa,” pungkasnya. (*)
Editor: Syaiful Aries

