SUARAJATIMPOST.COM — Di balik kemeriahan pertunjukan sound horeg yang kerap menjadi hiburan populer warga, ternyata tersimpan ancaman serius bagi kesehatan.
Dentuman keras dari sistem pengeras suara tersebut tidak hanya berpotensi memicu ketulian permanen, tetapi juga sanggup mengganggu sistem keseimbangan tubuh hingga menyebabkan vertigo.
Batas aman tubuh manusia saat terpapar suara berkekuatan di atas 120 desibel (dB) ternyata sangat singkat, hanya sekitar 3,5 detik per hari. Sementara itu, tingkat kebisingan arena sound horeg umumnya berada di atas ambang batas aman tersebut.
Pakar Otologi dan Neurotologi dari Universitas Airlangga (Unair), dr. Rosa Falerina, Sp.T.H.T., menegaskan bahwa paparan suara ekstrem ini secara langsung merusak organ vital di dalam telinga.
“Suara yang sangat keras membuat sel rambut di dalam koklea (rumah siput) bekerja ekstra hingga menjadi tidak bergerak atau tumbang seperti hutan yang gundul. Apabila sel-sel rambut ini rusak dan gugur, suara tidak akan memiliki jalan lagi untuk sampai ke otak,” kata dr. Rosa.
Kerusakan pada organ pendengaran tidak terjadi tanpa peringatan. Tanda paling awal yang sering diabaikan masyarakat adalah tinnitus atau sensasi telinga berdenging setelah mendengar dentuman keras.
Menurut dr. Rosa, berdengingnya telinga merupakan alarm alami tubuh yang menandakan bahwa sel-sel rambut di telinga bagian dalam sedang mengalami tekanan hebat atau gangguan.
“Denging itu sinyal awal bahwa sel rambut luar sedang terganggu. Apabila terpaparnya singkat dan warga langsung menjauh, pendengaran masih bisa pulih. Namun, apabila terpapar lama dan berdengingnya menetap, gangguan pendengaran itu berisiko menjadi permanen,” terang dosen Fakultas Kedokteran Unair tersebut.
Dampak buruk ini bukan sekadar teori akademis. dr. Rosa mengungkapkan bahwa dirinya pernah menangani kasus nyata di lapangan, di mana sepasang ibu dan anak mengalami penurunan fungsi pendengaran disertai denging berkepanjangan hanya karena sebuah iring-iringan sound horeg melintas tepat di depan rumah mereka.
Ancaman sound horeg tidak berhenti pada masalah pendengaran semata. Dentuman sub-bass berfrekuensi rendah yang menggelegar juga memiliki energi fisik yang sanggup mengguncang sistem keseimbangan tubuh manusia.
Hal ini terjadi karena letak organ pendengaran dan organ penganut sistem keseimbangan berada saling berdekatan di area telinga bagian dalam.
“Koklea itu bertetangga dengan sistem keseimbangan di telinga dalam. Dentuman yang sangat kuat tak hanya mengguncang rumah siput, tetapi juga menyenggol sistem keseimbangan sehingga memicu sensasi berputar atau vertigo,” jelas dr. Rosa.
Mengingat bahaya yang dapat menembus hantaran tulang kepala sekalipun, dr. Rosa menekankan pentingnya kesadaran masyarakat untuk melakukan langkah mitigasi mandiri saat berada di sekitar lokasi hiburan sound horeg.
Ia memberikan panduan preventif guna meminimalkan risiko kerusakan organ dalam telinga. Sebisa mungkin tidak berada terlalu dekat dengan sumber pengeras suara, jangan bertahan terlalu lama di area dengan dentuman keras dan mankan bayi, anak-anak, serta lansia jauh dari lokasi jalur pertunjukan.
“Suara ekstrem tetap bisa masuk melalui hantaran tulang kepala. Oleh karena itu, cara paling efektif adalah menjaga jarak, membatasi durasi paparan, serta menjauhkan kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, dan lansia dari lokasi sound horeg,” tutupnya. (**)
Sumber: Beritasatu.com
Editor: Syaiful Aries

