PROBOLINGGO, SJP — Dua bulan sudah matahari membakar tanah Kabupaten Probolinggo tanpa setetes pun hujan. Bagi ribuan warga miskin di pedesaan, kemarau panjang tahun ini bukan sekadar urusan cuaca panas, melainkan ancaman bagi kelangsungan hidup harian mereka.
Di Dusun Paoan, Desa Tegalsono, Kecamatan Tegalsiwalan, penderitaan itu tampak jelas setiap hari. Sumur-sumur warga telah lama mengering, menyisakan lubang batu yang berdebu. Kebutuhan paling dasar manusia, air bersih kini berubah menjadi barang langka yang amat mahal.
Untuk sekadar bertahan hidup, warga terpaksa memangkas drastis pola konsumsi harian mereka. Mandi dan mencuci pakaian tak lagi bisa dilakukan rutin, demi memastikan setetes air tetap ada untuk menyambung nyawa.
“Air bersih ini sangat membantu warga. Untuk minum dan memasak kami utamakan, sedangkan untuk mandi dan mencuci harus dikurangi,” tutur Nurhayati, salah satu warga Dusun Paoan, Kamis (3/9/2026).
Pemandangan memilukan terlihat saat truk tangki bantuan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo akhirnya tiba.
Puluhan warga mulai dari ibu-ibu hingga lansia langsung mengerubungi armada bantuan, berdesakan membawa jeriken, galon bekas, hingga ember seadanya untuk mendapatkan jatah air harian.
Krisis air bersih ini nyatanya telah meluas dan menjerat 19 desa yang tersebar di tujuh kecamatan, yakni Tiris, Banyuanyar, Tegalsiwalan, Wonomerto, Leces, Kuripan, dan Tongas.
Pemerintah daerah mengakui bahwa situasi kekeringan ini mengancam pemenuhan hak paling mendasar warga di kawasan pelosok.
“Air bersih adalah kebutuhan dasar masyarakat yang memang harus terpenuhi, sehingga di musim yang kering ini menjadi perhatian kami,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo, Oemar Sjarief.
Oemar menjelaskan, untuk meringankan beban 112 kepala keluarga di Dusun Paoan, pihaknya menyalurkan sekitar 10.000 liter air bersih yang dibagi ke dalam dua titik distribusi. Pasokan darurat ini dikirimkan secara berkala ke wilayah-wilayah yang masuk peta darurat kekeringan.
Sebagai langkah melepaskan warga dari jerat krisis tahunan ini, Pemerintah Kabupaten Probolinggo berencana membangun 17 titik sumur bor di wilayah rawan kekeringan ekstrem. Proyek infrastruktur air ini diharapkan menjadi jalan keluar permanen agar masyarakat kecil tak lagi harus bergantung pada belas kasihan truk tangki setiap kali musim kemarau tiba. (**)
Sumber: Beritasatu.com
Editor: Syaiful Aries

