KOTA KEDIRI, SJP – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kediri menemukan bakteri Escherichia coli (E. coli) dalam sampel nasi dan buah melon dari makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikonsumsi para pelajar sejumlah SDN di kawasan kelurahan Kampung Dalem, Ngronggo dan Kaliombo.
Pekan lalu sejumlah pelajar mengalami gangguan kesehatan diduga usai menyantap menu MBG yang dibagikan. Temuan bakteri itu diketahui setelah sampel makanan diperiksa di laboratorium. Namun, Dinkes masih menunggu hasil pemeriksaan terhadap sampel ayam sehingga belum seluruh sampel makanan diketahui hasilnya.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri, dr Hamida, mengatakan pemeriksaan laboratorium menemukan bakteri E. coli pada sampel nasi dan melon.
“Hasilnya itu diperiksa, ditemukan ada bakteri E. coli di sampel nasi dan buah melon,” ujarnya, Senin (21/9/2026).
Sebelumnya, Dinkes mengirimkan sejumlah sampel makanan untuk diperiksa. Sampel tersebut terdiri dari nasi, sisa makanan, ayam dan buah melon. Sementara untuk sampel ayam, Hamida mengatakan hasil pemeriksaannya masih belum keluar.
“(Hasil) ayamnya ini belum, masih menunggu ya, hasilnya belum keluar dia,” katanya.
Di sisi lain, kondisi siswa yang sebelumnya mendapat perawatan di rumah sakit terus membaik. dr Hamida menyebut hingga pembaruan kondisi pada pagi hari, tidak ada tambahan korban yang datang ke RSD Gambiran.
“Alhamdulillah sudah nggak ada pertambahan korban lagi,” ujarnya.
Dari 15 siswa yang sempat menjalani perawatan, sebanyak 13 anak telah diperbolehkan pulang. Sementara dua siswa lainnya masih menjalani observasi.
“Yang dirawat kemarin totalnya 15 anak, terus sudah pulang dari RS 13, tinggal 2 aja. Yang dua ini keadaannya sudah membaik sih. Sudah baik ya, tinggal kita observasi lebih lanjut,” jelas Hamida.
Keluhan yang dialami para siswa mayoritas berkaitan dengan gangguan pencernaan. Gejala yang muncul antara lain mual, muntah serta rasa panas pada bagian perut. Sebagian siswa juga mengalami demam dan batuk.
“Kebanyakan itu keluhannya mual muntah. Kemudian sekitar pencernaan perut, perut rasa panas begitu, terus yang lain-lain kadang ada yang demam, ada yang batuk,” ungkapnya.
Terkait dugaan sumber kontaminasi, Hamida mengatakan masih terdapat sejumlah kemungkinan yang perlu diperhatikan dalam proses pengolahan dan distribusi makanan.
Menurutnya, persoalan dapat berkaitan dengan proses sejak bahan mentah, pengolahan, hingga jeda waktu antara makanan selesai dimasak, dikemas dan diberikan kepada siswa.
“Mungkin dari pemrosesannya. Mulai dari bahan mentahnya mungkin, bahan mentahnya atau setelah dimasaknya mungkin jarak antara mungkin masih panas sudah ditutup atau bagaimana, kemudian jarak antara makanan masak sama diberikan atau setelah di-packing kemudian memberikannya terlalu lama,” katanya.
Dinkes Kota Kediri selanjutnya memberikan advise kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar seluruh prosedur sanitasi dan higiene dalam penyediaan makanan MBG benar-benar diterapkan dalam praktik sehari-hari. Saat ini, SPPG Kaliombo yang menjadi penyuplai menu MBG kepada para pelajar terdampak telah ditutup sementara.
Hamida mengatakan setiap SPPG telah memiliki standar operasional prosedur (SOP), termasuk terkait standar sanitasi dan higiene. Namun perlu dilakukan sejak pemilihan dan penanganan bahan mentah, proses pencucian, penyimpanan, memasak, hingga makanan disajikan kepada penerima.
“Semua sudah dapat sertifikat SLHS, cuma pada saat praktik kesehariannya itu bagaimana? Nah, apakah sanitasi higienis dari mulai bahannya, bahan mentahnya, kemudian pencuciannya bagaimana, penyimpanan bahan-bahan itu bagaimana, kemudian memasak, waktu antara memasak, makan ini kapan, masaknya kapan, terus disajikannya kapan,” jelasnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian

