SUARAJATIMPOST.COM — Peningkatan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang memicu hujan abu vulkanis di Banten, Jakarta, hingga Jawa Barat tidak menyurutkan operasional transportasi rel nasional. PT Kereta Api Indonesia (Persero) memastikan seluruh jadwal perjalanan kereta api, mulai dari Kereta Api Jarak Jauh hingga KA Bandara tetap beroperasi normal, tepat waktu, dan terkendali pada Ahad (6/9/2026).
Jaminan keamanan ini menjadi kabar krusial bagi mobilitas masyarakat, terutama di tengah potensi gangguan pada jalur transportasi darat lainnya maupun moda penerbangan akibat paparan abu vulkanis.
Sektor perkeretaapian menerapkan protokol mitigasi berlapis untuk mengantisipasi potensi bahaya material abu vulkanis terhadap sarana dan prasarana rel. Penjagaan ketat dilakukan dengan memeriksa kelayakan kelistrikan, sistem sinyal, hingga kebersihan lintasan secara berkala.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menjelaskan bahwa operasional kereta api dijalankan berlandaskan sistem manajemen keselamatan yang teruji dalam berbagai kondisi darurat bencana alam.
“KAI memastikan perjalanan kereta api tetap berjalan dengan mengutamakan keselamatan. Pemantauan kondisi operasional, kesiapan sarana dan prasarana, serta koordinasi petugas di lapangan terus dilakukan untuk menjaga perjalanan pelanggan tetap aman dan nyaman,” ujar Anne dalam keterangannya, Ahad (6/9/2026).
Di tengah ketidakpastian operasional di sektor penerbangan akibat sebaran abu vulkanis, KAI memberi perhatian khusus pada keandalan operasional KA Bandara. Layanan ini difokuskan untuk memfasilitasi kebutuhan integrasi moda transportasi masyarakat dari dan menuju area bandara secara fleksibel.
Anne menambahkan bahwa seluruh jajaran petugas di lapangan dibekali dengan Prosedur Standar Operasional (SOP) mitigasi risiko guna merespons dinamika perubahan kondisi cuaca maupun dampak erupsi.
“KAI mengimbau masyarakat tetap tenang dan mengacu pada informasi resmi dari BMKG, Badan Geologi Kementerian ESDM melalui PVMBG, serta kanal resmi KAI. Kami terus memastikan layanan kereta api berjalan aman dengan mengutamakan keselamatan pelanggan dan petugas,” tegas Anne.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), letusan Gunung Anak Krakatau yang memicu hujan abu meluas ini terekam sejak Jumat (4/9/2026) pukul 22.03 WIB.
Erupsi tersebut mencatatkan amplitudo maksimum sebesar 19 milimeter dengan durasi gempa letusan sekitar 29 detik. Meski paparan abu mengganggu jarak pandang di beberapa area darat, otoritas mencatat hingga Sabtu (5/9/2026) tidak terdeteksi adanya kenaikan muka air laut yang signifikan di perairan Selat Sunda.
Kerja sama intensif antara PT KAI, BMKG, dan PVMBG dipastikan terus berlangsung selama 24 jam guna memantau pergerakan arah angin dan sebaran abu vulkanis demi menjaga kelancaran moda transportasi berbasis rel tersebut. (**)
Sumber: Beritasatu.com
Editor: Syaiful Aries

