JOMBANG, SJP – Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Pemerintahan dan Otonomi Daerah, Ganjar Pranowo, menghadiri acara panen raya padi varietas baru GP 65 Bogor atau MSP 65 di Dusun Kedungpring, Desa Bareng, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, Kamis (17/9/2026).
Dalam kesempatan tersebut, ia mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan pangan menghadapi dampak El Niño yang berkepanjangan.
Panen raya digelar Anggota Komisi IV DPR RI Sadarestuwati. Sejumlah tokoh dan kepala daerah dari PDI Perjuangan turut hadir, di antaranya Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi, serta Ganjar Pranowo.
“Pagi ini kita panen raya benih MSP. Mari sejahterakan petani. Ini temuan dari Mbah Rono dari Lampung dan sebenarnya sudah lama sekali. Tapi ini menjadi relevan, konteksnya adalah ketika El Niño ini terjadi dan agak panjang, maka kita mesti siaga. Ini bentuk kesiapsiagaan, di samping sebenarnya perlu siap siaga yang lain dalam konteks pangan, tidak hanya beras,” ujar Ganjar Pranowo.
Ia menekankan bahwa panen raya ini merupakan salah satu ikhtiar untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Menurutnya, perjuangan ini perlu didukung kepala daerah, DPRD, dan seluruh struktur hingga masyarakat.
“Bersama masyarakat nanam, agar kita punya ketahanan pangan untuk diri kita sendiri. Jadi spirit-nya sebenarnya itu dan ini karya dari salah satu kader yang menurut saya perlu kita sosialisasikan dan kita dukung,” tambahnya.
Saat ditanya soal tingkat produktivitas, Ganjar menjelaskan bahwa varietas MSP masih dalam tahap demplot atau uji coba. Namun, ia menyebut rata-rata produksi bisa mencapai 10 ton per hektar, yang menurutnya merupakan hasil luar biasa.
“Kalau rata-rata Indonesia itu ya 5,6 ton per hektar, maka kalau bisa naik 7 ton saja, itu sudah dahsyat, luar biasa. Tapi se-Indonesia ya,” jelasnya.
Ganjar menambahkan, kondisi tanah, irigasi, pupuk, dan daerah yang berbeda-beda membuat produktivitas tidak seragam. Karena itu, ia mendorong adanya pendampingan dan distribusi yang tepat, termasuk untuk lahan tadah hujan.
“Yang lain mesti produktivitasnya tinggi, yang di sini rendah, sehingga nanti subsidinya atau apa distribusinya akan bisa disilang. Di samping tentu didampingi bahan pangan nonpadi,” ujarnya.
Menyoal target dan tindak lanjut, Ganjar menyatakan praktik ini sudah dilaksanakan di banyak tempat dan akan terus dilanjutkan.
“Jombang salah satu area yang kita pakai untuk uji coba ini. Dan ini akan kita teruskan. Apakah kira-kira, umpama 3–4 kali panen bisa konsisten? Kalau itu konsisten, fix, maka kita sebarkan,” tegasnya.
Ia juga menyebut beberapa daerah lain seperti Banyumas dan beberapa area di Jawa Timur sudah lebih dulu menanam varietas ini. Ganjar meminta logbook dan catatan disiapkan agar prosesnya dapat direplikasi.
“Benihnya mesti konsisten seperti itu, kondisi tanahnya, pemupukannya, prosesnya, perawatannya. Kalau itu sama, maka rakyat tinggal meniru saja,” pungkasnya. (*)
Editor: Syaiful Aries

