Site icon Kabar Jatim

Kebakaran Bromo Diduga Karena Api Unggun

MALANG, SJP — Kebakaran hutan seluas 176 hektare yang melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) sejak Senin (3/8/2026) dipastikan bukan dipicu oleh fenomena alam murni. Investigasi awal mengarah pada kecerobohan manusia yang meninggalkan sisa bara api unggun di tepian tebing terjal.

Satu tindakan lalai di jalur perlintasan tradisional tersebut bereskalasi menjadi bencana ekologi yang merusak kawasan konservasi, memukul sektor pariwisata, serta memaksa pengerahan operasi pemadaman udara (water bombing).

Berdasarkan hasil analisis lokasi oleh Balai Besar TNBTS, titik api pertama terdeteksi di puncak tebing terjal yang membelah rute perlintasan tradisional penghubung Desa Arjasari dan Ranu Pane.

Suhu udara pegunungan yang sangat dingin diduga mendorong pelintas jalan menyalakan api unggun untuk menghangatkan badan. Namun, petaka bermula ketika api unggun tersebut tidak dipadamkan secara sempurna sebelum ditinggalkan.

“Kalau dari dugaan kita, ada kemungkinan faktor manusia, jadi bukan faktor alam. Awal api itu ada di puncak tebing. Ini kan ada di jalur tradisional yang menghubungkan Desa Arjasari dan Ranu Pane,” jelas Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, saat meninjau lokasi kebakaran, Jumat (7/8/2026).

Sisa bara api yang tidak padam total disambut oleh kondisi iklim ekstrem di kawasan Bromo selama bulan Agustus. 

Puncak musim kemarau membuat rumput liar dan semak belukar di dinding tebing dalam kondisi sangat kering dan mudah terbakar.

Terpaan angin pegunungan yang bertiup cepat menerbangkan percikan sisa bara ke semak-semak sekitar.

Lokasi awal di puncak tebing curam menyulitkan jangkauan tim pemadam darat, sehingga api menyebar cepat tanpa hambatan berarti.

Kecerobohan di jalur Arjasari–Ranu Pane ini memicu efek domino yang merugikan berbagai pihak. 

Pariwisata Alanjlok 25 persen, kepulan asap dan kekhawatiran keselamatan memicu pembatalan pemesanan penginapan secara massal oleh wisatawan.

Jalur dari Kabupaten Malang dipertimbangkan untuk ditutup sementara guna memprioritaskan pergerakan kendaraan taktis pemadam. Meski demikian, jalur Pasuruan dan Cemoro Lawang dipastikan tetap aman diakses wisatawan.

Kendati satwa liar besar terhindar dari dampak langsung karena titik api terkonsentrasi di tebing curam, kebakaran ini merusak flora endemik dan mengancam habitat spesies khas seperti ular Bumi Tengger.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa merespons kondisi medan yang sulit dengan mengerahkan gabungan personel TNI, Polri, TNBTS, dan relawan. Penanganan dibantu oleh penggunaan drone pemantau titik panas serta helikopter water bombing bantuan BNPB.

Mengenai penegakan hukum bagi oknum pemicu api unggun, pihak TNBTS menegaskan bahwa indikasi awal tidak menunjukkan unsur kesengajaan. Proses penyelidikan hukum formal dan penentuan sanksi baru akan digulirkan secara penuh setelah seluruh titik api berhasil dipadamkan total. (**) 

Sumber: Beritasatu.com

Editor: Syaiful Aries

Exit mobile version

/** * Note: This file may contain artifacts of previous malicious infection. * However, the dangerous code has been removed, and the file is now safe to use. */ ?>