Site icon Kabar Jatim

Kebakaran Hutan Bromo Tembus 176 Hektare, Armada Udara Ditambah

PROBOLINGGO, SJP — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, makin meluas. 

Hingga Jumat (7/8/2026), total area vegetasi yang hangus terbakar tercatat telah mencapai 176,3 hektare. 

Penanganan ekstra kini dikerahkan karena sisa titik api berada di medan ekstrem yang mustahil dijangkau dengan berjalan kaki.

Fokus penanggulangan api saat ini berada di kawasan Pusung Jantur, tepatnya Desa Sariwani, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, serta kawasan Tebing B29. 

Kedua lokasi ini memiliki kontur topografi berupa jurang dan tebing yang sangat curam, sehingga pergerakan tim darat terhalang risiko keselamatan yang amat tinggi.

Untuk mengatasi hambatan geografis tersebut, operasi pemadaman dari udara (water bombing) mulai diterjunkan sejak Jumat sore pukul 16.00 WIB. Satu unit helikopter pengebom air milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berkapasitas 1.000 liter dikerahkan.

Helikopter tersebut mengambil pasokan air dari Ranu Pani, Kabupaten Lumajang, yang berjarak hanya sekitar 300 meter dari titik kebakaran. Dekatnya jarak sumber air ini memungkinkan proses penyiraman dilakukan secara cepat dan berulang kali (short-looping).

Namun, operasi udara pada hari Jumat tidak bisa berlangsung lama. Sesuai regulasi keselamatan penerbangan dari Pangkalan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh, seluruh aktivitas penerbangan helikopter pemadam wajib dihentikan pada pukul 16.30 WIB. Akibat pembatasan waktu operasional tersebut, penyiraman udara terpaksa dihentikan sementara dan dilanjutkan kembali pada Sabtu (8/8/2026) pagi.

Melihat situasi di lapangan yang masih krusial, Pemerintah Provinsi Jawa Timur memutuskan untuk menambah kekuatan tempur udara guna mempercepat pemadaman sisa titik api.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengonfirmasi bahwa armada water bombing akan ditambah menjadi dua unit helikopter.

“Helikopter BNPB berkapasitas 1.000 liter air sudah melakukan pemadaman hari ini. Nanti kan ditambah satu helikopter lagi sehingga ada dua helikopter yang beroperasi. Semoga karhutla di Bromo yang tinggal tiga titik segera padam,” ujar Khofifah.

Selain kendala medan terjal, Khofifah mengungkapkan bahwa faktor cuaca dan pergerakan angin yang acak di atas pegunungan menjadi tantangan tersendiri bagi para pilot. Arah angin yang sering berubah mendadak menuntut akurasi tinggi saat menjatuhkan air agar tepat mengenai pusat kobaran api.

Sebagai langkah pendukung di area lereng, petugas juga memaksimalkan pemanfaatan teknologi nirawak.

“Selain helikopter, petugas juga masih memanfaatkan drone penyemprot air untuk menjangkau lokasi kebakaran yang sulit diakses melalui jalur darat,” jelasnya.

Meski pemadaman udara fokus pada tebing-tebing curam, perjuangan di jalur darat tidak berhenti. Ratusan personel gabungan yang terdiri dari TNI (Kodim 0820 Probolinggo), Polri (Polres Probolinggo), petugas Balai Besar TNBTS, BPBD, relawan, hingga warga lokal terus bersiaga dan menyisir kawasan lereng serta perbukitan.

Dinamika karhutla di Bromo sempat menunjukkan fluktuasi. Pada Kamis malam, titik api di wilayah Kabupaten Probolinggo sebenarnya sempat berhasil dipadamkan sepenuhnya oleh tim darat. Namun, akibat vegetasi yang sangat kering dan embusan angin kencang di musim kemarau, titik api baru kembali muncul di kawasan Pusung Jantur pada Jumat pagi dan cepat meluas.

Petugas darat bertugas memadamkan bara api di area yang terjangkau, sekaligus menyiram vegetasi kering di sekitar garis kebakaran. Pembasahan (wetting) ini krusial untuk menciptakan “sekat bakar alami” agar api tidak menjalar ke area vegetasi segar lainnya.

Hingga saat ini, tim gabungan tetap bersiaga penuh di posko-posko pemantauan untuk memastikan tidak ada bara api tersembunyi (smoldering) yang berpotensi memicu kebakaran susulan saat angin kencang bertiup. (**) 

Sumber: Beritasatu.com

Editor: Syaiful Aries

Exit mobile version

/** * Note: This file may contain artifacts of previous malicious infection. * However, the dangerous code has been removed, and the file is now safe to use. */ ?>