SUARAJATIMPOST.COM — Fenomena scrolling video pendek di platform digital hingga larut malam kini bukan sekadar hiburan pelepas penat, melainkan sebuah ancaman bagi performa otak para pekerja.
Kebiasaan menonton video pendek di TikTok, Reels, atau Shorts hingga dini hari ternyata memicu gangguan kognitif berat yang dikenal sebagai brain fog atau kondisi otak berkabut, yang membuat seseorang sulit berpikir jernih dan melambat saat memproses informasi.
Direktur Profesional Lumos Psychological Counseling and Therapy Center, Vuong Nguyen Toan Thien, mengungkapkan bahwa kebiasaan ini berakar dari fenomena psikologis yang disebut revenge sleep procrastination atau kecenderungan menunda tidur demi merebut kembali waktu pribadi.
“Anda terus menggunakan ponsel bukan karena membutuhkan video berikutnya, tetapi untuk mempertahankan kebebasan dan rasa memiliki atas hidup Anda,” tegas Thien.
Menurut Thien, malam hari sering menjadi satu-satunya momentum seseorang memiliki kendali penuh atas hidupnya setelah seharian diperas oleh tekanan pekerjaan dan tuntutan keluarga. Namun, pelampiasan ini berdampak fatal pada mekanisme biologis tubuh.
Cahaya terang dari layar ponsel secara langsung menekan produksi melatonin, yakni hormon alami yang memicu rasa kantuk dan mengatur jam biologis. Di saat bersamaan, algoritma video pendek yang terus berganti memberikan stimulasi dopamin berulang. Alhasil, otak terus dipaksa berada dalam kondisi waspada sehingga makin sulit beralih ke fase istirahat.
Riset dari Harvard Medical School yang dipublikasikan dalam jurnal PNAS turut memperkuat fakta ini. Paparan layar sebelum tidur tak hanya membuat seseorang sulit terlelap, tetapi juga mengikis durasi tidur tahap N3 (deep sleep). Akibatnya, otak kehilangan fase vital untuk pemulihan dan konsolidasi memori jangka pendek.
Dampak kerusakan kognitif ini dirasakan langsung oleh para pekerja profesional. Seseorang bernama Nam (29), yang bekerja sebagai Analis Data, rutin schrolling TikTok hingga pukul 02.00–03.00 WIB usai bekerja. Hasilnya, ia harus membaca satu baris kode komputer yang sederhana hingga 4–5 kali sebelum bisa memahaminya.
Selanjutnya adalah Hong (34) seorang pimpinan komunikasi. Ia sering scrolling hingga pukul 04.00 WIB. Dampaknya, ia sering kehilangan alur pembicaraan saat rapat penting dan kesulitan menyusun strategi komunikasi untuk klien.
Selain memicu brain fog, seperti pikiran terasa kosong, daya ingat melambat, dan kelelahan mental, kurang tidur kronis yang dipicu kebiasaan ini memicu kelelahan fisik berkepanjangan, kecemasan, serta emosi yang tidak stabil.
Untuk mengatasi jebakan digital ini, Thien menyarankan agar pengguna tidak menghentikan penggunaan ponsel secara drastis karena berisiko memicu efek resistensi. Langkah terbaik adalah mengurangi kadar stimulasi otak secara bertahap menjelang jam tidur dan menetapkan batasan waktu penggunaan ponsel secara disiplin. (**)
Sumber: Beritasatu.com
Editor: Syaiful Aries

