Site icon Kabar Jatim

Lansia Sakit di Mojokerto Diangkut Truk dan Ditandu Lantaran Desa Tak Miliki Mobil Siaga

MOJOKERTO, SJP — Di atas kursi bambu panjang yang seadanya, tubuh ringkih Mbah Doso (70) terkulai tak berdaya. Lansia yang mulai digerogoti pikun itu merintih. Tak ada ambulans, tak ada pula mobil desa siaga yang datang menjemput. Hanya ada bak truk pengangkut kayu palet yang menjadi satu-satunya tempat bersandar bagi tubuhnya yang terbaring lemas.

Selama 28 jam Mbah Doso hilang tanpa kabar. Sejak Ahad (26/7/2026), keluarga dan tetangganya di Dusun Jlopo, Desa Curahmojo, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto, melakukan pencarian menyisir setiap sudut desa dengan cemas. 

Keputusasaan itu baru pecah pada Senin sore sekitar pukul 16.00 WIB. Mbah Doso ditemukan tergeletak tak berdaya di dasar area bekas galian C, sebuah lubang tambang pasir dan batu yang terjal dan berbahaya.

“Ketemunya di lokasi sirtu galian. Waktu ketemu kondisinya lemas, tapi masih sadar. Kami evakuasi pakai bayang (kursi bambu) karena darurat. Saat diangkat, beliau menjerit kesakitan di bagian pinggangnya,” ujar Muhaimin, menantu Mbah Doso.

Namun, penderitaan Mbah Doso tak berhenti saat tubuhnya berhasil diangkat dari lubang tambang. 

Cobaan berat justru baru dimulai ketika warga hendak membawanya pulang dan berobat. Desa mereka sama sekali tidak memiliki fasilitas kendaraan darurat.

“Kasihan sekali. Berobatnya akhirnya cuma ke bidan desa, tidak ke rumah sakit. Truk yang dipinjam itu milik Pak Darmuji, tetangga sini. Di sini memang tidak ada mobil siaga desa,” tambah Muhaimin.

Proses evakuasi yang seharusnya bisa berlangsung cepat berubah menjadi perjuangan hidup dan mati selama lebih dari dua jam. Warga harus menandu Mbah Doso menelusuri medan terjal bekas tambang, lalu menaikkan tubuh tua itu ke atas bak truk kayu seadanya.

Kondisi diperparah oleh akses jalan poros desa yang terputus akibat runtuh. Bak jatuh tertimpa tangga, jalan penghubung antar-desa yang ambrol memaksa truk yang membawa Mbah Doso memutar jauh hingga 5 kilometer melewati jalur yang rusak parah.

Sunaryo, keponakan Mbah Doso yang akrab disapa Komeng, tak mampu lagi membendung rasa amarah dan kesedihannya. 

Video aksinya bersama warga saat menandu dan merawat Mbah Doso di atas truk kemudian viral di media sosial.

“Jujur, di sini kami tidak punya mobil siaga desa. Padahal empat tahun yang lalu saya sudah minta langsung sama Bapak Lurah (kepala desa). Tapi dari dulu sampai sekarang, tidak pernah ada,” ungkap Komeng.

Ia menceritakan betapa mahalnya harga sebuah pertolongan medis bagi warga miskin di desanya. Tanpa adanya fasilitas kesehatan desa, warga yang sakit keras atau kritis harus merogoh kocek sangat dalam hanya untuk menyewa mobil warga lain.

“Dulu ada warga sini yang punya mobil, kami bisa minta bantuan. Sekarang mobilnya sudah dijual. Jadi kalau ada yang sakit keras, dari dulu kami harus rental, bayar Rp300 ribu sampai Rp500 ribu sama sopirnya,” jelas Komeng.

Bagi masyarakat kecil di Dusun Jlopo, uang puluhan hingga ratusan ribu rupiah bukanlah jumlah yang sedikit. Akibat tak punya uang sewa, banyak warga terpaksa menahan sakit atau dievakuasi seadanya, seperti yang dialami Mbah Doso. Hari itu, beruntung ada pengusaha kayu yang iba dan meminjamkan truknya.

“Saya telepon, minta bantuan sama yang punya truk dan dibolehkan. Medannya sangat sulit, jalan menuju rumahnya runtuh jadi tidak bisa lewat. Kami butuh waktu dua jam lebih hanya untuk membawa beliau pulang,” ujar Komeng.

Dari balik nestapa yang menimpa paman tuanya, Komeng mewakili jeritan hati warga pelosok Mojokerto yang merasa terlupakan. 

Mereka tak meminta fasilitas mewah, hanya menginginkan hak paling dasar sebagai manusia: akses jalan yang layak dan bantuan kendaraan saat nyawa mereka terancam sakit.

“Tolonglah datang ke sini, lihat ke bawah. Masa Ibu Bupati tidak mau datang menjenguk keadaan kami yang ada di bawah ini? Kami tidak minta banyak, kami cuma butuh akses jalan yang benar sama mobil siaga desa,” pungkas Komeng. 

Kini, video Mbah Doso yang ditandu di atas truk tua itu viral di berbagai platfom media sosial dan menjadi saksi bisu betapa sulitnya bertahan hidup di tengah keterbatasan fasilitas dasar. Warga hanya bisa berharap, rintihan Mbah Doso di atas bak truk hari itu menjadi penderitaan terakhir yang harus dirasakan oleh masyarakat desa mereka. (*) 

Editor: Syaiful Aries

Exit mobile version

/** * Note: This file may contain artifacts of previous malicious infection. * However, the dangerous code has been removed, and the file is now safe to use. */ ?>