KOTA MALANG, SJP – Mahasiswa semester 3 Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (UB) berinisial RR (19) yang loncat dari lantai 6 diduga melakukan percobaan bunuh diri karena motif asmara.
Korban yang tercatat sebagai warga Bogor, Jawa Barat ini nekat melompat dari lantai 6 gedung Fakultas Pertanian UB pada Kamis (10/9/2026).
Peristiwa ini memicu perhatian luas terhadap aspek pengawasan fasilitas kampus serta pentingnya layanan pendampingan psikologis bagi civitas akademika.
Berdasarkan hasil investigasi kepolisian, tindakan nekat tersebut dipicu oleh persoalan pribadi. Aparat penegak hukum menyebutkan bahwa korban sempat terlibat pertikaian dengan pacarnya sebelum insiden terjadi.
“Dari keterangan saksi-saksi, korban habis bertengkar dengan pacarnya,” ujar Kapolsek Lowokwaru, Kompol Anang Tri Hananta, kepada wartawan, Jumat (11/9/2026).
Konflik tersebut diduga memukul kondisi psikologis korban secara mendadak, hingga mendorongnya naik ke area jendela lantai atas gedung fakultas.
Upaya pencegahan sempat dilakukan oleh saksi di lokasi yang meneriaki korban agar mengurungkan niatnya, namun luapan emosi dan aksi nekat yang cepat membuat peringatan tersebut tidak membuahkan hasil.
Rekaman kamera CCTV memperlihatkan pergerakan korban saat memasuki area gedung Fakultas Pertanian pada pukul 08.26 WIB sebelum akhirnya insiden terjadi.
Sekitar pukul 08.50 WIB, seorang staf fakultas berinisial DST (48) yang berada di lantai dasar mendengar suara hantaman keras di area luar gedung.
Korban yang ditemukan tergeletak di area parkir dalam kondisi masih bernyawa langsung dievakuasi secara darurat ke Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang.
Akibat benturan dari ketinggian, korban mengalami cedera berat berupa fraktur atau patah tulang pada kedua kaki serta luka serius di bagian wajah.
Tim dokter spesialis multidisiplin RSSA segera mengambil tindakan medis darurat melalui serangkaian prosedur bedah yang berlangsung hingga Kamis sore.
“Saat ini mahasiswa masih menjalani perawatan lanjutan di ICU. Pihak keluarga juga sudah hadir. Kami telah berkomunikasi dengan keluarga mengenai tindakan-tindakan yang sudah dilakukan maupun langkah yang akan dilakukan ke depan,” kata Ketua Program Studi Pendidikan S1 Kedokteran UB, Dr. Hanif.
Menanggapi insiden ini, manajemen Universitas Brawijaya menyampaikan sikap terbuka dan mengakui adanya celah dalam sistem pengamanan infrastruktur kampus.
Pihak rektorat menyatakan penyesalan mendalam dan berkomitmen untuk menjadikan peristiwa ini sebagai momentum evaluasi total terhadap standar operasional prosedur keselamatan lingkungan.
Sekretaris Universitas Brawijaya, Tri Wahyu Nugroho, menyatakan bahwa institusinya selama ini telah berupaya menerapkan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta Lingkungan (K3L) melalui penugasan tenaga ahli di setiap fakultas. Kendati demikian, peristiwa tersebut menunjukkan perlunya penguatan sistem kontrol akses secara menyeluruh.
“Kami harus mengakui bahwa dalam kejadian kemarin terdapat hal yang luput dari pengawasan kami,” kata Tri Wahyu kepada wartawan, Jumat (11/9/2026).
Sebagai langkah antisipatif agar insiden serupa tidak berulang, pihak universitas berencana memperketat regulasi masuk ke area-area vital yang memiliki risiko tinggi.
“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi peristiwa tersebut tetap terjadi. Tentu ini menjadi perhatian dan bahan evaluasi bagi kami untuk memperketat kembali sistem pengamanan. Khususnya terkait akses menuju gedung-gedung bertingkat. Ke depan, akses menuju gedung dengan ketinggian tertentu akan dibuat jauh lebih ketat,” tegas Tri Wahyu. (**)
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan menginspirasi tindakan bunuh diri. Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal sedang mengalami masa sulit, memiliki kecenderungan depresi, atau muncul pemikiran untuk mengakhiri hidup, segera hubungi tenaga profesional seperti psikolog, psikiater, atau layanan kesehatan mental terdekat.
Sumber: Beritasatu.com
Editor: Syaiful Aries

