Site icon Kabar Jatim

Maulid Nabi Jadi Momentum Bani Syi’in Rawat Silaturahmi dan Sejarah Keluarga

BONDOWOSO, SJP – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia memiliki warna yang beragam. Di sejumlah daerah, kelahiran Nabi Muhammad SAW diperingati melalui pengajian, pembacaan selawat, doa bersama hingga tradisi khas masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun. Semaraknya perayaan tersebut menunjukkan bagaimana kecintaan kepada Rasulullah diekspresikan melalui tradisi keagamaan dan budaya yang berkembang di tengah masyarakat.

Bagi sebagian keluarga, Maulid Nabi juga menjadi momentum untuk mempertemukan anggota keluarga yang selama ini dipisahkan oleh jarak dan kesibukan. Nilai silaturahmi yang melekat dalam peringatan Maulid kemudian dipadukan dengan upaya mengenalkan kembali sejarah keluarga kepada generasi penerus.

Hal itu pula yang dilakukan keluarga besar Bani Syi’in. Sekitar 100 anggota keluarga mengikuti reuni keluarga besar Bani Syi’in yang digelar di Desa Randu Cangkring, Kecamatan Pujer, Kabupaten Bondowoso, Minggu (6/9/2026). Pertemuan tersebut dirangkaikan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Salah satu keluarga Bani Syi’in, M. Nur Hudan, S.Sos., M.Si., yang merupakan salah satu pejabat di Fakultas Pertanian Universitas Jember, mengatakan peringatan Maulid Nabi di Indonesia memiliki sejarah panjang dan berkembang dalam beragam bentuk sesuai tradisi masyarakat di masing-masing daerah.

“Peringatan Maulid Nabi di Indonesia ini sangat beragam. Ada yang dilaksanakan sederhana dalam bentuk pengajian dan selawat, tetapi ada juga yang berkembang menjadi tradisi masyarakat dengan berbagai kegiatan. Semuanya pada dasarnya menjadi bentuk kecintaan umat Islam kepada Nabi Muhammad SAW sekaligus momentum untuk mengingat kembali keteladanan beliau,” ujarnya.

Menyatukan Keluarga dan Mengenalkan Sejarah

Menurut M. Nur Hudan, perayaan Maulid Nabi menjadi semakin bermakna ketika dimanfaatkan sebagai ruang memperkuat hubungan keluarga. Sebab, selain aspek keagamaan, pertemuan semacam itu dapat menjadi sarana bagi generasi muda untuk mengenal lebih dekat keluarga besar dan sejarah yang melatarbelakangi keberadaan mereka.

Reuni Bani Syi’in di Desa Randu Cangkring tersebut karena itu tidak sekadar menjadi ajang berkumpul. Pertemuan sekitar 100 anggota keluarga dari berbagai generasi tersebut juga menjadi kesempatan untuk memperkuat kembali komunikasi dan ikatan kekeluargaan.

“Jangan sampai generasi berikutnya hanya mengenal nama keluarga, tetapi tidak mengetahui sejarah dan perjuangan para pendahulunya. Karena itu, silaturahmi seperti ini penting untuk terus dijaga,” kata M. Nur Hudan.

Dalam kesempatan tersebut, sejarah keluarga Bani Syi’in juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pertemuan. Salah satu putra Bani Syi’in yang dikenal dalam sejarah keluarga adalah Guru Fatma.

M. Nur Hudan menyebut Guru Fatma termasuk salah satu guru ngaji pada masa awal di kawasan Kota Bondowoso, khususnya di wilayah Badean, pada masa pemerintahan Hindia Belanda.

Keberadaan Guru Fatma disebut menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan keagamaan keluarga Bani Syi’in di Bondowoso. Jejak tersebut kemudian berlanjut melalui hubungan kekerabatan dengan sejumlah tokoh agama di daerah.

Salah satu menantu Guru Fatma adalah KH. Syamsuri, yang dikenal sebagai salah satu tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU) di Bondowoso.

Maulid Menjadi Pengingat Keteladanan

Bagi keluarga besar Bani Syi’in, penyelenggaraan reuni yang dirangkaikan dengan Maulid Nabi memiliki makna tersendiri. Selain mempertemukan anggota keluarga, momentum tersebut menjadi ruang untuk mengingat kembali nilai-nilai yang diajarkan Rasulullah, terutama mengenai persaudaraan, akhlak dan pentingnya menjaga silaturahmi.

M. Nur Hudan mengatakan semangat tersebut perlu terus diwariskan kepada generasi muda. Apalagi, perkembangan zaman dan mobilitas masyarakat membuat pertemuan antarkerabat tidak selalu mudah dilakukan.

“Intinya adalah bagaimana nilai silaturahmi itu tetap hidup. Kita berkumpul, saling mengenal, kemudian generasi muda juga mengetahui bahwa mereka memiliki keluarga besar dan sejarah yang harus dihargai,” tuturnya.

Ia berharap reuni keluarga besar Bani Syi’in dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan. Bukan hanya sebagai agenda berkumpul, tetapi juga menjadi ruang untuk merawat hubungan kekeluargaan sekaligus menjaga ingatan terhadap perjalanan para pendahulu.

“Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut. Yang kita rawat bukan hanya pertemuannya, tetapi persaudaraan, sejarah keluarga dan nilai-nilai kebaikan yang diwariskan oleh para pendahulu,” pungkasnya. (*)

Editor : Rizqi Ardian

Exit mobile version

/** * Note: This file may contain artifacts of previous malicious infection. * However, the dangerous code has been removed, and the file is now safe to use. */ ?>