Site icon Kabar Jatim

Mengapa Ekosistem Semeru dan Ranu Kumbolo Sangat Rentan Terbakar?

LUMAJANG, SJP – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melahap sedikitnya 170 hektare kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menjadi cerminan berulangnya kerentanan ekologis di kawasan ini. 

Titik api yang meluas di sejumlah blok—mulai dari Ledok Bedor, Jantur, Ranu Kembang, Ayak-Ayak, Watu Rejeng, Ranu Kumbolo, hingga Puncak Trisula—bukan sekadar peristiwa temporer, melainkan alarm bagi kelangsungan ekosistem pegunungan bawah dan atas TNBTS.

Bahan Bakar Alami di Musim Kemarau

Dominasi vegetasi di kawasan lereng Semeru dan koridor pendakian Ranu Kumbolo sebagian besar terdiri dari lanskap savana rumput, alang-alang, serta tegakan pohon cemara gunung (Casuarina junghuhniana) dan edelweis (Anaphalis javanica). Menurut dokumen keanekaragaman flora Balai Besar TNBTS, jenis vegetasi ini sangat adaptif namun sekaligus rentan di kala kemarau.

Daun cemara gunung yang gugur serta rumput savana yang mengering bekerja layaknya serasah kering, bahan bakar alami yang sangat mudah menyulut api. Ketika cuaca ekstrem membawa angin kencang dan kelembapan udara menurun drastis, gesekan atau percikan sekecil apa pun di area seperti Ayak-Ayak dan Pangonan Cilik dapat memicu karhutla yang merembet cepat secara topografis.

Kepala Bagian Tata Usaha BB TNBTS, Bambang Suriyono, mengonfirmasi bahwa besarnya dampak kebakaran masih terus dihitung seiring dengan dinamisnya titik api di lapangan. 

“Ini akan kami update, saat ini tim kami masih melakukan pengukuran perkiraan luasan menggunakan drone,” jelas Bambang mengenai estimasi awal luasan lahan yang terdampak.

Ancaman terhadap Habitat Satwa Endemik

Kawasan yang terbakar di sekitar TNBTS bukan sekadar hamparan lahan kosong, melainkan rumah bagi berbagai fauna dilindungi dan flora endemik. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat bahwa kawasan TNBTS merupakan habitat penting bagi predator puncak Jawa yang terancam punah, yaitu macan tutul jawa (Panthera pardus melas), serta beragam jenis anggrek langka.

Terbakarnya blok-blok seperti Watu Rejeng hingga Ranu Kumbolo berpotensi memutus koridor pergerakan satwa, memicu kerusakan rantai makanan, serta merusak kawasan resapan air alami di sekitar Ranu Kumbolo dan Ranu Pani.

Tantangan Medan dan Perjuangan Tim di Lapangan

Karakteristik medan Semeru yang terjal menjadi faktor utama lambatnya penanganan di darat. Kesulitan ini dirasakan langsung oleh para petugas yang berjibaku menembus titik api di lokasi-lokasi ekstrem.

Petugas TRC BPBD Lumajang, Muhammad Rosyid, mengungkapkan bahwa tantangan fisik dan aksesibilitas menjadi hambatan terbesar tim gabungan. 

“Kendala kami titik api yang susah dijangkau. Sumber mata air juga yang cukup jauh sekitar 3 kilometer menjadi kendala petugas. Namun, pemadaman via udara juga dilakukan untuk membantu mempercepat proses pemadaman,” terang Rosyid.

Kondisi tersebut memaksa pengerahan dua helikopter milik BPBD Jawa Timur untuk melakukan water bombing dengan mengambil pasokan air langsung dari kawasan Ranu Pani.

Pelajaran Mitigasi Kawasan Konservasi

Peristiwa ini menegaskan bahwa penanganan karhutla di kawasan pegunungan tinggi tidak cukup hanya mengandalkan aksi tanggap darurat (response). Pembatasan akses, pengawasan ketat aktivitas manusia di sepanjang jalur pendakian, serta pemulihan ekosistem secara alami (rekoveri) perlu terus menjadi fokus utama guna menjaga benteng konservasi terakhir di Jawa Timur ini. (**)

Sumber: beritasatu.com

Exit mobile version

/** * Note: This file may contain artifacts of previous malicious infection. * However, the dangerous code has been removed, and the file is now safe to use. */ ?>