Site icon Kabar Jatim

Panen Tembus 12 Ton per Hektare di Jombang Padi Varietas GP 65 Bogor Solusi Swasembada Pangan

JOMBANG, SJP – Panen padi unggul varietas GP 65 Bogor di lahan seluas kurang lebih 1 hektare dengan hasil produktivitas mencapai 12,54 ton di Dusun Kedungpring, Desa Bareng, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang digadang bisa menjadi solusi untuk swasembada pangan dan ancaman dari cuaca ekstrem dampak El Nino. 

Selain itu padi dengan nama lain MSP 65 itu memiliki masa tanam relatif pendek pada kisaran 65-80 hari hingga masa panen. Dapat bertahan dari serangan hama dan relatif tahan pada kondisi cuaca yang ekstrem.

Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Pertanian dan Ketahanan Pangan, Sadarestuwati mengatakan melalui penanaman varietas padi GP 65 Bogor atau MSP 65 dan intensifikasi pertanian dapat menjadi solusi produktivitas pangan. 

Varietas ini memiliki umur tanam yang sangat genjah, hanya 65 hingga maksimal 80 hari setelah tanam, jauh lebih singkat dibanding varietas umum yang mencapai 120 hari.

“Dengan hadirnya varietas GP 65 ini, tentunya bisa menjadi solusi untuk mencapai target swasembada pangan. Hasil ubinan kami mencapai 12,54 ton per hektar. Kalau normal, paling tidak masih kisaran 10 ton,” ucap Mbak Estu karib disapa, Kamis (17/9/2026). 

Ia juga menyoroti keunggulan lain dari varietas ini, seperti ketahanan terhadap hama dan penyakit, serta rendemen yang tinggi. 

“Rendemen dari padi basah ke padi kering bisa mencapai 84 persen. Di musim ini rata-rata berkisar 80 sampai 82 persen, alhamdulillah ini bisa mencapai 84 persen,” urai Anggota DPR RI Komisi IV ini. 

Keberhasilan ini, menurut Mbak Estu, akan segera disosialisasikan ke wilayah lain. Varietas GP 65 sudah resmi dirilis, sehingga dapat ditanam oleh seluruh petani di Indonesia. Ia berencana menjalin kerja sama dengan para petani untuk menyediakan benih dengan klasifikasi yang dapat ditanam secara langsung.

“Saya yakin tahun depan kita sudah akan banyak memiliki varietas GP 65 ini dan sudah bisa ditanam oleh seluruh petani kita di Indonesia. Terutama, padi ini tahan terhadap kekeringan. Saat diuji di lahan ekstrem, masih bisa menghasilkan 5 ton lebih,” ungkapnya.

 

Di sisi lain, Mbak Estu menyoroti ancaman serius perubahan iklim. Ia merasakan langsung bagaimana suhu panas bumi meningkat drastis. Prediksi El Nino dari BRIN dan BMKG, yang paling cepat berakhir Oktober, bisa saja berlanjut hingga tahun depan. Jika itu terjadi, jadwal tanam petani akan mundur dan berpotensi menyebabkan gagal panen.

“Kalau sampai benar-benar terjadi gagal panen, masyarakat kita akan kesulitan mendapatkan pangan beras. Maka dari itu, Ibu Ketua Umum, Ibu Megawati Soekarnoputri, sudah memerintahkan kami sejak tahun 2021 agar seluruh kepala daerah dan kader partai menanam 10 tanaman pendamping beras,” tegasnya.

Ia pun mengajak seluruh masyarakat Indonesia, khususnya di Kabupaten Jombang, untuk mulai bercocok tanam di lahan sempit, pot, atau polybag. Tanaman seperti ubi-ubian dan sayur-sayuran dinilai mampu menjadi penyangga pangan jika krisis akibat iklim ekstrem benar-benar terjadi.

“Mari kita mulai bercocok tanam menggunakan pot atau polybag. Ini untuk bisa membantu dan menolong kita bila suatu saat terjadi kekurangan pangan akibat iklim ekstrem,” pungkasnya.

Keberhasilan panen varietas GB 65 menjadi angin segar di tengah tantangan iklim dan harga pangan yang tidak stabil. Namun, tanpa antisipasi serius dari semua pihak, ancaman krisis pangan akibat El Nino tetap membayangi. Diversifikasi pangan dan inovasi varietas menjadi dua kunci yang harus berjalan beriringan. (*)

Editor : Rizqi Ardian

Exit mobile version

/** * Note: This file may contain artifacts of previous malicious infection. * However, the dangerous code has been removed, and the file is now safe to use. */ ?>