NGAWI, SJP – Ribuan bungkus nasi hangat mendadak melayang di udara, saling bertabrakan, lalu mendarat di tubuh para peserta yang bersorak kegirangan. Suasana riuh dan gelak tawa mendadak pecah di Desa Pelang Lor, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, saat warga menggelar tradisi unik bertajuk Perang Nasi pada Sabtu (12/9/2026).
Tradisi ini digelar sebagai bagian dari puncaknya perayaan bersih desa atau sedekah bumi yang dihelat saban tahun seusai panen kedua. Sebelum laga dimulai, ribuan nasi bungkus lengkap dengan lauk-pauk ditumpuk rapi di tengah arena. Begitu aba-aba dimulainya acara berkumandang, puluhan warga langsung berhamburan menyerbu tumpukan tersebut dan saling melempar tanpa ampun.
Tidak ada aturan mengenai sasaran lemparan. Siapa pun yang berada di sekitar lokasi bebas diserang. Arena yang tadinya tertata rapi pun berubah menjadi lautan nasi hanya dalam hitungan menit. Uniknya, di tengah hiruk-pikuk lemparan nasi, ada satu hukum adat yang tidak boleh dilanggar: peserta dilarang keras untuk marah atau menyimpan dendam.
Kepala Desa Pelang Lor, Hariyana, menjelaskan bahwa tradisi ini telah mengalami pergeseran bentuk seiring perubahan zaman.
“Setiap tahun diadakan setelah panen kedua. Ada pergeseran. Dahulu waktu saya kecil, nasi kita rebut dan kita bawa pulang. Saat ini sudah tidak kekurangan makan, akhirnya digunakan untuk lempar-lemparan. Syaratnya tidak boleh marah,” jelas Hariyana.
Meski kemasannya berubah, esensi tradisi turun-temurun ini tetap terjaga. Perang Nasi menjadi wadah mengekspresikan rasa syukur atas kelimpahan hasil bumi sekaligus momentum mempererat tali silaturahmi antarwarga. Kemeriahan tradisi unik ini pun sukses menjadi daya tarik visual yang memikat perhatian masyarakat sekitar. (**)
Sumber: beritasatu.com
Editor: Danu

