SURABAYA, SJP – Ujian fisik berlapis kini tengah dihadapi oleh skuad Persebaya Surabaya sekembalinya dari lawatan tandang yang diwarnai kendala transportasi akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Akibat pembatalan penerbangan, skuad Bajul Ijo terpaksa menempuh perjalanan darat dan laut yang panjang dan melelahkan dari Lampung menuju Surabaya.
Situasi tersebut menuntut jajaran pelatih untuk mengambil langkah cepat demi mengembalikan kebugaran fisik pemain sebelum kembali merumput. Sebelum menjalani sesi latihan di Lapangan C Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) Surabaya, Rabu (9/9/2026), seluruh pemain diwajibkan melewati serangkaian asesmen medis dan fisik, yang meliputi pemeriksaan body composition serta tes countermovement jump.
Pelatih fisik Persebaya Surabaya, Diogo Carvalho, menegaskan bahwa pemantauan ketat ini mutlak dilakukan secara individual. Pasalnya, tingkat kelelahan dan kapasitas adaptasi setiap pemain dalam menerima akumulasi beban pertandingan serta durasi perjalanan panjang menunjukkan variasi yang berbeda.
“Hasil tes countermovement jump memberi kami gambaran mengenai kondisi neuromuskular pemain, termasuk bagaimana tubuh mereka merespons pertandingan dan perjalanan panjang dari Lampung. Karena respons terhadap kelelahan bisa berbeda pada setiap pemain, kami memantau kondisi mereka secara individual,” ungkap Diogo, Rabu (9/9/2026).
Diogo menambahkan, metode countermovement jump digunakan untuk mengukur sejauh mana kemampuan neuromuskular pemain dalam menghasilkan tenaga eksplosif melalui otot tungkai bawah. Angka parameter tersebut kemudian dikalkulasikan dengan data acuan awal atau baseline guna mendeteksi potensi penurunan performa atau indikasi kelelahan kronis.
“Hasil hari ini kemudian kami bandingkan dengan baseline masing-masing pemain. Dari situ, kami bisa melihat apakah ada penurunan performa yang berpotensi menjadi tanda kelelahan atau proses pemulihan yang belum sepenuhnya tuntas,” imbuhnya.
Pendekatan berbasis data ini menjadi instrumen krusial bagi tim pelatih dalam meracik program latihan yang efektif, mengingat sempitnya rentang waktu pemulihan jelang laga kandang menjamu PSIM Yogyakarta di Stadion GBT, Minggu (13/9/2026) malam. Porsi latihan disesuaikan secara spesifik, membedakan antara pemain dengan intensitas menit bermain tinggi dan mereka yang minim menit bermain guna menghindari risiko cedera otot.
Langkah taktis pemulihan fisik ini diharapkan mampu mendongkrak performa tim secara keseluruhan. Persebaya mengusung misi wajib menang demi mendulang poin penuh di kandang sendiri, menyusul hasil imbang 1-1 yang diraih saat menghadapi Bhayangkara FC pada laga pembuka, Sabtu (5/9/2026).
“Target kami sederhana. Pemain harus menyelesaikan sesi latihan dengan kondisi yang lebih baik dibandingkan ketika mereka tiba. Kami ingin meningkatkan kebugaran, mobilitas, dan kesiapan neuromuskular pemain, tetapi tetap memberikan stimulus latihan yang sesuai dengan waktu singkat di antara dua pertandingan,” tutup Diogo. (**)
Sumber: Beritasatu.com
Editor: Syaiful Aries

