JEMBER, SJP–Maraknya masalah dalam penyelenggaraan karnaval yang melibatkan sound horeg, mulai dari kerusakan fasilitas warga hingga gangguan ketertiban lalu lintas, mendorong panitia Kencong Fest Carnival menerapkan metode dan aturan baru.
Langkah ini diharapkan mampu menjadi tolok ukur baru sekaligus percontohan bagi daerah lain di Jawa Timur.
Dalam gelaran tersebut, sebanyak 34 peserta sound system yang melintasi rute sepanjang 3 kilometer dibatasi waktu tampil.
Pihak panitia mengalokasikan durasi maksimal 5 jam untuk setiap peserta mulai dari garis start hingga finish.
Keputusan tersebut diambil berdasarkan kajian matang yang mencakup manajemen waktu hingga alokasi penampilan para peserta di sepanjang rute.
Tidak hanya pembatasan waktu, Kencong Fest Carnival juga mengusung misi pemecahan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI).
Di sepanjang rute, ke-34 peserta sound system akan mengumandangkan lagu Indonesia Raya dan memimpin hening cipta secara serentak pada waktu yang telah ditentukan.
Ketua Panitia Kencong Fest Carnival, Heru Tomas, menyatakan bahwa skema ini dirancang untuk mengubah pola penyelenggaraan karnaval sound horeg agar lebih tertib dan teratur.
“Kami di Kencong berbeda. Kami terapkan role model dan pembatasan waktu yang jelas. Jika skema ini berhasil, Kecamatan Kencong bisa menjadi percontohan bagi wilayah lain,” ujar Heru Tomas.
Senada dengan hal tersebut, Tim Teknis Panitia, M. Rochul Ulum atau yang akrab disapa Mas Pitix, menjelaskan detail teknis pemecahan rekor MURI serta rangkaian acara pendukung di lokasi finish.
“Kami mengadakan pemecahan rekor MURI dengan membunyikan lagu Indonesia Raya secara bersama-sama pada jam yang sudah ditentukan. Selain itu, kami mengajak masyarakat untuk berdiri dan hormat sambil bernyanyi bersama. Di area finish, kami juga menyajikan fashion show dengan berbagai tema,” jelas Mas Pitix.
Sementara itu, Ketua Jember Sound System Community (JSSC) sekaligus pemilik TMA Pro Audio, Arief Sugihartani, yang turut menjadi bagian dari kepanitiaan, berharap skema baru ini berjalan sukses dan membawa dampak positif bagi citra komunitas sound system.
“Kami mohon doa dukungannya. Jika sistem ini berhasil diterapkan di Kencong, saya yakin ini akan menjadi wadah dan percontohan baru untuk event-event selanjutnya,” pungkas Arief. (*)
Editor: Syaiful Aries

