Site icon Kabar Jatim

Tiga Jam Bertahan di Laut, Kesaksian Korban Selamat KMP Mutiara Sentosa II

TULUNGAGUNG, SJP — Bambang Susilo (36) tak pernah membayangkan perjalanan mengantar muatan dari Jakarta menuju Makassar akan berubah menjadi tragedi mencekam. Warga Desa Sobontoro, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung ini menjadi salah satu korban selamat dari terbakarnya KMP Mutiara Sentosa II di Perairan Utara Pulau Madura, Ahad (2/8/2026).

Namun, di balik keselamatannya, duka mendalam membayangi Bambang. Ia harus kehilangan Sari Sukoco, rekan satu armada yang telah delapan tahun bekerja bersamanya, setelah ditemukan meninggal dunia dalam musibah tersebut.

Peristiwa nahas itu terjadi sangat cepat. Pagi hari sebelum kejadian, Bambang baru saja mengambil sarapan ketika teriakan panik memecah kesunyian kapal.

“Habis saya mengambil sarapan pagi, terus ada orang teriak kebakaran. Saya lihat keluar sudah asap tebal. Teman-teman langsung evakuasi, lari semua ke anjungan depan,” ungkap Bambang, Senin (3/8/2026).

Di tengah suasana chaotic, Bambang sempat berusaha kembali ke dek bawah untuk menyelamatkan dokumen penting kendaraan. Niat itu langsung ia urungkan saat merasakan hawa panas yang mulai menjalar dari lantai kapal.

“Saya mau mengambil data-data kendaraan di dek bawah. Asap sudah keluar walaupun api belum kelihatan. Tapi waktu saya sentuh lantainya, sudah panas. Saya langsung lari ke atas lagi,” ujarnya.

Saat berhasil kembali ke bagian atas kapal, Bambang bertemu dengan Sari Sukoco. Melihat kobaran api yang kian membesar, Bambang berulang kali mendesak rekannya itu untuk segera menceburkan diri ke laut demi menyelamatkan nyawa.

Namun, respons Sari saat detik-detik terakhir itu menjadi kenangan yang tak pernah terhapus dari ingatan Bambang.

“Saya bilang, ‘Mas ayo.’ Beliau cuma mengangguk. Saya bilang lagi, ‘Mas saya turun duluan.’ Beliau cuma senyum sambil mengangguk, terus saya lompat,” kenangnya.

Situasi di atas deck kapal saat itu sudah terlampau kritis. Rombongan mereka yang berjumlah enam orang sebenarnya telah mengenakan pelampung, namun api terus menjalar tanpa kompromi.

“Api sudah mulai menjalar ke depan. Saya sudah merasakan panas, lantainya juga sudah panas. Saya inisiatif lompat. Yang lompat duluan teman saya, lalu saya. Yang lain masih sempat ragu-ragu,” katanya.

Ujian keselamatan Bambang belum usai saat tubuhnya menyentuh air. Terjangan ombak besar langsung memisahkan para penumpang. Di tengah gulita dan hempasan gelombang, Bambang sempat membantu penumpang lain agar tetap bertahan.

“Saya sempat menolong perempuan. Lama-lama adiknya datang, akhirnya kita bertiga. Di tengah dapat teman lagi tiga orang, jadi berenam. Kita bergandengan pegang pelampung,” tuturnya.

Proses evakuasi berlangsung dramatis dan memakan waktu hingga lebih dari tiga jam. Kapal tim penyelamat tidak berani mendekat langsung ke lokasi kejadian karena ancaman ledakan dan kondisi gelombang yang ekstrem.

“Kurang lebih tiga jam lebih di laut. Kita yang nyamperin kapal. Kapal penolong enggak berani mendekat karena takut meledak, gelombangnya juga besar. Akhirnya kapal barang yang nolong,” jelasnya.

Meski berhasil diselamatkan oleh kapal barang yang melintas, Bambang harus menerima kenyataan pahit. Sejak pertama kali meloncat, ia kehilangan kontak dengan Sari Sukoco akibat derasnya arus laut.

“Waktu saya lompat sudah enggak tahu siapa-siapa lagi. Bisa lihat orang, tapi enggak tahu itu siapa karena semua sudah berpencar,” kata Bambang.

Bagi Bambang, Sari Sukoco bukan sekadar teman kerja. Selama delapan tahun mengarungi jalanan lintas pulau membawa berbagai jenis muatan, termasuk barang perlengkapan ruang pendingin tujuan Makassar pada perjalanan terakhir ini, Sari dikenal sebagai pribadi yang santai dan menyenangkan.

Kini, kenangan panjang di jalur ekspedisi dan senyum terakhir di atas kapal yang terbakar menjadi ingatan abadi Bambang atas kepergian sahabat terbaiknya. (*)

Editor: Syaiful Aries

Exit mobile version

/** * Note: This file may contain artifacts of previous malicious infection. * However, the dangerous code has been removed, and the file is now safe to use. */ ?>