Aliran Sungai di Jombang Dipenuhi Limbah, DLH Janji Kerahkan Alat Berat

JOMBANG, SJP – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jombang merespon keluhan warga Dusun Murong Santren, Desa Mayangan, Kecamatan Jogoroto atas timbulnya aroma tidak sedap diduga limbah yang mencemari saluran air desa setempat. 

Kepala DLH Jombang, Miftahul Ulum mengatakan pihaknya sudah menerima kabar tersebut dan berjanji akan segera melakukan tindakan pembersihan. 

“Ya mas. Ini sedang kami koordinasikan karena itu membutuhkan alat berat supaya bisa dibersihkan,” ucap Miftahul Ulum kepada suarajatimpost.com, Selasa (15/9/2026). 

Ketika disinggung kapan upaya untuk melakukan pembersihan aliran sungai, Ulum belum bisa memastikan. 

Sebelumnya, aroma tidak sedap yang mengganggu indera penciuman warga Dusun Murong Santren, Desa Mayangan, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang, kembali tercium pada Senin (14/9/2026).

Aroma tersebut diduga berasal dari air limbah yang keluar melalui saluran gorong-gorong dan masuk ke Sungai Sekunder Rejoagung 2 di dusun setempat.

Berdasarkan pantauan di lapangan, saluran sungai tampak kering dan penuh endapan tanah berwarna coklat serta sejumlah sampah. Dari sebuah gorong-gorong, cairan yang diduga berasal dari limbah produksi tahu dan limbah kotoran sapi mengalir deras ke saluran sungai.

Warga setempat menduga cairan tersebut berkaitan dengan limbah produksi tahu. Namun, dugaan mengenai sumber pencemaran masih memerlukan pemeriksaan dan verifikasi dari instansi berwenang.

Umar Mahmud, warga Dusun Murong Santren yang telah tinggal di kawasan tersebut sejak 1999, menyampaikan bahwa persoalan pencemaran sudah terjadi sejak beberapa tahun terakhir. Kondisi semakin parah ketika memasuki musim kemarau.

“Keluhan itu limbah tahu, kotoran hewan, dan sampah-sampah. Kalau kemarau, parah. Baunya sangat menyengat sampai bikin dada sesak dan panas,” ungkap Umar kepada wartawan.

Kondisi musim kemarau membuat aroma tidak sedap semakin kuat. Endapan yang keluar dari gorong-gorong terus menerus mengalir ke sungai dan terus menumpuk.

“Kalau musim hujan airnya penuh dan kotoran terbawa. Tapi kalau kemarau, parah. Setiap hari baunya terasa,” ujarnya.

Menurut Umar, laporan terkait keluhan tersebut sudah seringkali disampaikan kepada pemerintah, namun solusi yang diberikan kurang maksimal. 

“Bukan satu atau dua kali disampaikan, sudah sering. Hasilnya tidak ada solusi. Kalau ada rapat, dibicarakan, setelah itu kembali lagi seperti semula,” ungkapnya.

Salah satu solusi yang pernah disampaikan adalah pembangunan instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Namun, hingga kini fasilitas tersebut disebut belum terealisasi.

“Katanya mau dibuatkan IPAL, tapi sampai sekarang belum ada. Harapannya memang dibuatkan IPAL supaya sungainya bersih dan warga tidak terus terkena dampak bau,” pungkasnya. (*) 

Editor: Syaiful Aries

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

/** * Note: This file may contain artifacts of previous malicious infection. * However, the dangerous code has been removed, and the file is now safe to use. */ ?>