MOJOKERTO, SJP – Insiden tenggelamnya kapal motor (KM) Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa pada Ahad (13/9/2026) dini hari menyisakan duka mendalam serta penantian panjang bagi keluarga korban.
Di balik musibah tersebut, kisah tragis dialami oleh para pekerja logistik lintas pulau, salah satunya M Suud, seorang pengemudi truk asal Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, yang hingga kini statusnya masih dalam pencarian.
Perjalanan nahas ini bermula ketika M Suud bersama kernetnya, Saiful Nurudin (36), warga Desa Jatijejer, Kecamatan Trawas, bertolak dari kediaman mereka pada Jumat (11/9/2026). Keduanya mengemban tugas operasional untuk mengantar muatan paket mesin lift menggunakan truk menuju Banjarmasin, Kalimantan.
Sebelum berangkat, Suud sempat berpamitan kepada istrinya untuk menjalankan rutinitas pengiriman barang antarpulau.
Tidak ada firasat buruk apa pun yang menyelimuti keluarga saat melepas kepergian kepala keluarga yang merupakan ayah dari dua anak tersebut.
Namun, situasi berubah drastis pada Ahad (13/9/2026). Mertua korban, Wariyeb, yang tengah melaksanakan ziarah di Gunung Tidar, mendadak menerima kabar darurat bahwa kapal yang ditumpangi menantunya mengalami kecelakaan di tengah laut.
“Pamitnya ke istrinya saja, pamitnya bilang mau muat paket ke Kalimantan. Kemarin hari Minggu yang di rumah dikabari waktu saya ziarah di Gunung Tidar, ada kapal yang ditumpangi Suud menuju Kalimantan tenggelam,” ungkap Wariyeb saat ditemui di Desa Mojokembang, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Senin (14/9/2026).
Berdasarkan data manifest pelayaran, tercatat tiga warga Kabupaten Mojokerto berada di atas KM Virgo Transport 8, yakni M Suud, Saiful Nurudin, dan Munawi. Dari ketiganya, Saiful Nurudin dipastikan selamat setelah berhasil dievakuasi ke Banjarmasin, sementara M Suud dan Munawi masih dalam pencarian intensif oleh tim SAR gabungan.
Berdasarkan keterangan yang dihimpun dari Saiful, posisi dirinya dan M Suud terpisah saat detik-detik insiden penyelamatan di tengah laut. Informasi tersebut mendorong pihak keluarga untuk bergerak cepat memantau perkembangan penanganan di lapangan.
Wariyeb memaparkan bahwa sejumlah anggota keluarga inti, didampingi oleh perangkat desa setempat, telah bertolak menuju Surabaya untuk memantau langsung proses pencarian darurat.
“Ini istrinya bersama anaknya, sama Pak lurah yang ikut mantau ke Surabaya,” kata Wariyeb.
Di tengah ketidakpastian evakuasi, pihak keluarga tetap berlapang dada dan menggantungkan harapan penuh kepada tim penyelamat gabungan. Apapun kondisi penemuan nantinya, keluarga menyatakan kesiapan mental demi kepastian hukum dan kemanusiaan bagi korban.
“Harapan keluarga, Suud bisa ditemukan dalam keadaan apa pun. Mudah-mudahan Allah masih mempertemukan kita dalam keadaan apa pun. Itu harapan keluarga,” pungkasnya. (**)
Sumber: Beritasatu.com
Editor: Syaiful Aries