BANYUWANGI, SJP — Penyeberangan vital penghubung Pulau Jawa dan Bali kini diberlakukan skema buka-tutup secara fleksibel (dinamis). Langkah darurat ini diambil oleh PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Ketapang menyusul amukan cuaca ekstrem berupa gelombang tinggi dan angin kencang yang terus membayangi perairan Selat Bali dalam beberapa hari terakhir.
Dengan sistem ini, izin berlayar kapal dapat dihentikan seketika saat cuaca buruk menerjang, dan akan langsung dibuka kembali tanpa menunggu lama begitu kondisi laut dinyatakan aman.
Menerapkan sistem buka-tutup berpotensi memicu antrean panjang kendaraan di luar area pelabuhan. Untuk mengantisipasi kemacetan di jalan raya serta menjaga kelancaran arus logistik, ASDP telah menyiapkan dua strategi.
Pertama, Pengaktifan Buffer Zone (Kantong Parkir), kawasan Bulusan resmi difungsikan sebagai lokasi penampungan sementara (buffer zone).
Truk logistik dan kendaraan pribadi yang belum bisa menyeberang akan diarahkan ke lokasi ini agar tidak menumpuk di bahu jalan utama menuju pelabuhan.
Kedua, penambahan armada kapal (Extra Trip, setiap kali status pelabuhan berganti dari “tutup” menjadi “buka”, ASDP akan memaksimalkan penambahan jumlah armada kapal yang beroperasi untuk menyedot dan mengurai antrean kendaraan secara cepat.
General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Ketapang, Arief Eko Kurniansjah, menegaskan bahwa penentuan status buka atau tutupnya pelabuhan bukan merupakan keputusan sepihak dari ASDP, melainkan hasil kesepakatan bersama otoritas maritim.
Langkah ini disepakati dalam rapat koordinasi lintas instansi yang melibatkan ASDP, KSOP Kelas III Tanjung Wangi, Satpel Pelabuhan Penyeberangan BPTD Kelas II Jawa Timur, BMKG, serta kepolisian setempat.
“Setiap keputusan operasional didasarkan pada rekomendasi cuaca maritim dari BMKG dan hasil koordinasi dengan seluruh otoritas terkait, bukan kebijakan sepihak operator,” ujar Arief Eko.
Ia menambahkan, penyesuaian operasional ini bergerak sangat cepat mengikuti perubahan angin dan gelombang di perairan.
“Sebagai bentuk kesiapsiagaan, ASDP terus memperkuat koordinasi lintas instansi melalui pemantauan cuaca maritim secara berkala bersama BMKG agar potensi cuaca ekstrem dapat dideteksi sedini mungkin, dan keputusan operasional dapat diambil secara cepat serta tepat,” kata Arief.
ASDP mengimbau para calon penumpang dan pengemudi armada logistik untuk tidak khawatir atau panik terkait kepastian keberangkatan.
Penundaan berlayar saat pelabuhan ditutup sementara murni dilakukan untuk melindungi keselamatan nyawa pengguna jasa dan awak kapal dari risiko kecelakaan laut.
“Kami menyiapkan berbagai langkah antisipatif secara terpadu, mulai dari pemantauan cuaca, penyediaan *buffer zone*, kesiapan armada, hingga pengaturan lalu lintas bersama kepolisian. Upaya ini agar dampak penyesuaian operasional dapat diminimalkan sekaligus menjaga kelancaran layanan,” pungkas Arief. (**)
Editor: Syaiful Aries