JEMBER, SJP–Akses layanan kesehatan bagi warga miskin dan lansia di wilayah pelosok pegunungan Kabupaten Jember tuai apresiasi. Kehadiran Program Home Care layanan medis jemput bola langsung ke rumah warga, mendapat perhatian positif dari kalangan akademisi setempat.
Langkah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember ini dinilai sebagai terobosan nyata dalam mendekatkan pelayanan medis kepada kelompok masyarakat yang paling membutuhkan.
Geografi Jember yang didominasi kawasan pegunungan kerap menjadi tembok penghalang bagi warga kurang mampu untuk berobat. Kendala biaya transportasi dan keterbatasan fisik sering kali memaksa warga rentan membiarkan penyakit mereka tanpa penanganan medis.
Melalui konsep dokter keluarga berbasis Home Care, tenaga medis rutin mendatangi rumah-rumah pasien. Hal ini dinilai efektif memangkas hambatan geografis dan ekonomi yang selama ini membelenggu warga pelosok.
Kepala Program Studi Hukum Tata Negara (HTN) Fakultas Syariah UIN KHAS Jember, Achmad Hasan Basri, menegaskan bahwa program jemput bola ini bukan sekadar bantuan sosial biasa, melainkan bentuk kewajiban mendasar Pemkab Jember.
“Bagi saya pada prinsipnya mendukung Program Home Care apabila orientasinya benar-benar ditujukan untuk membantu masyarakat yang kurang mampu dan mereka yang mengalami kesulitan mengakses layanan kesehatan. Kehadiran negara melalui pemerintah daerah dalam memberikan pelayanan kesehatan merupakan bentuk tanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakat,” tegas Hasan Basri, Rabu (5/8/2026).
Pendekatan Home Care juga mengubah pola pelayanan kesehatan dari pasif menjadi aktif. Jika selama ini pasien yang harus bersusah payah mendatangi puskemas atau rumah sakit, kini dokter dan perawat yang hadir langsung di tengah keluarga pasien.
Hasan Basri menilai pendampingan medis secara rutin di tingkat tapak ini menjadi angin segar bagi warga yang memiliki keterbatasan mobilitas fisik, seperti lansia dan penderita penyakit kronis.
“Apabila yang dimaksud adalah adanya pendampingan tenaga medis yang secara rutin memberikan pelayanan kepada pasien di rumah, maka hal tersebut merupakan langkah yang sangat baik,” pungkasnya.
Meski mendapat apresiasi tinggi, efektivitas program ini di lapangan bergantung penuh pada tata kelola pelaksanaannya. Kalangan akademisi mengingatkan Pemkab Jember agar program ini tidak sekadar menjadi seremonial belaka.
Empat prinsip utama wajib dijadikan pedoman oleh Dinas Kesehatan dan para petugas medis di lapangan.
Data penerima manfaat harus benar-benar diverifikasi agar menjangkau warga miskin dan rentan, bukan kelompok yang berkecukupan.
Pelayanan yang diberikan di rumah warga harus memenuhi standar medis yang layak dan manusiawi.
Pengelolaan anggaran dan distribusi tenaga medis wajib terbuka untuk menghindari penyalahgunaan.
Layanan tidak boleh terhenti di tengah jalan dan harus memiliki kepastian anggaran jangka panjang.
Dengan pengawasan ketat dan eksekusi yang tepat sasaran, Program Home Care berpotensi menjadi standar baru pelayanan kesehatan masyarakat di Kabupaten Jember. (***)
Editor: Syaiful Aries