BOJONEGORO, SJP – Kabar baik datang dari petani tembakau di Kabupaten Bojonegoro. Memasuki musim panen 2026, harga tembakau rajangan di sejumlah wilayah mulai menunjukkan tren positif.
Di Kecamatan Kepohbaru, harga tembakau rajangan yang dibeli tengkulak langsung dari petani bahkan mencapai Rp40 ribu per kilogram. Harga tersebut menjadi angin segar bagi petani setelah pada musim sebelumnya mereka sempat menghadapi anjloknya harga akibat kondisi cuaca.
Tingginya harga tembakau tahun ini tidak lepas dari kualitas hasil panen yang dinilai lebih baik. Salah satu faktor yang mendukung kualitas tersebut yakni kadar air daun tembakau yang relatif rendah.
Petani menyebut kondisi cuaca yang lebih mendukung membuat proses pengeringan tembakau berjalan lebih optimal. Hal itu kemudian berdampak terhadap kualitas tembakau rajangan yang dihasilkan.
Salah seorang petani tembakau asal Kecamatan Kepohbaru, Nursyam, mengaku bersyukur dengan harga yang diterima pada musim panen tahun ini.
“Alhamdulillah tahun ini harganya bagus. Kalau kualitas tembakaunya bagus dan kadar airnya rendah, harga yang diberikan tengkulak juga tinggi,” ujar Nursyam.
Menurutnya, harga tembakau pada beberapa petikan sebelumnya juga relatif tinggi, berada di kisaran Rp25 ribu hingga Rp39 ribu per kilogram.
Kondisi tersebut berbeda dibandingkan musim panen tahun lalu. Saat itu, harga tembakau sempat mengalami penurunan cukup signifikan yang salah satunya dipengaruhi tingginya curah hujan.
Nursyam mengatakan, harga jual yang tinggi menjadi keuntungan tersendiri bagi petani. Sebab, untuk mendapatkan hasil panen berkualitas, petani harus melewati proses panjang mulai dari penanaman, perawatan, pemetikan, hingga tembakau dirajang dan dikeringkan.
Meski harga saat ini cukup menjanjikan, petani masih berharap tren positif tersebut dapat bertahan hingga petikan terakhir.
“Harapannya harga tetap bagus sampai panen terakhir, sehingga hasil yang didapat petani bisa lebih maksimal,” harapnya.
Kondisi harga tembakau yang mulai membaik menjadi kabar positif bagi petani Bojonegoro. Setelah menghadapi tekanan harga pada musim sebelumnya akibat faktor cuaca, tingginya harga tahun ini diharapkan mampu meningkatkan pendapatan petani sekaligus menutup biaya produksi yang telah dikeluarkan selama masa tanam. (*)
Editor: Syaiful Aries