Arte De Amore, Warna Baru Kolaborasi Seni dan Komunitas Kreatif Kota Kediri

KOTA KEDIRI, SJP – Berangkat dari pandangan bahwa seni merupakan salah satu bentuk cinta, Arte De Amore menghadirkan warna baru bagi ruang kreatif anak muda di Kota Kediri. Perhelatan ini diwujudkan melalui penggabungan berbagai disiplin seni sekaligus kolaborasi lintas komunitas dan daerah.

“Arte De Amore adalah bagaimana memandang seni sebagai sebuah cinta. Bagaimana movement kecil berangkat dari beberapa kolaborasi komunitas menjadi gerakan atau tenaga besar berjalannya kreativitas anak muda di kota Kediri ini,” ungkap Inisiator Arte De Amore Ahmad Farid Abdillah, Rabu, (16/09/2026) 

Keterlibatan seniman dan komunitas dalam Arte De Amore terbilang luas. Tidak hanya melibatkan berbagai disiplin seni, kegiatan tersebut juga mempertemukan seniman dari sejumlah daerah.

Beragam karya dan pertunjukan ditampilkan dalam Arte De Amore, mulai dari performance art, seni rupa, lukis, ilustrasi, instalasi, fashion, komedi hingga musik elektronik yang melibatkan banyak disc jockey (DJ).

“Untuk seniman, kita kolaborasi bareng ada seniman Jakarta, seniman Bali, seniman Malang, berkolaborasi dengan 20 seniman Kediri. DJ yang tampil di Art De Amore sekitar 26 DJ. Kita juga kolaborasi dengan beberapa komunitas seperti motor custom, komunitas pelari dan lainnya,” jelasnya.

Menyatukan beragam jenis seni serta latar belakang komunitas dalam satu ruang menjadi tantangan tersendiri. Farid mengibaratkan keberagaman elemen kreatif tersebut seperti sajian nasi dengan berbagai pilihan.

Menurutnya, keberagaman tersebut justru memberikan keleluasaan bagi pengunjung untuk menikmati karya maupun pertunjukan di Arte De Amore sesuai minat dan selera masing-masing.

“Semua punya disiplin kreatif atau semangat kreatif masing-masing, ketika itu diumpamakan sebuah nasi, mungkin ada nasi merah, ada nasi kuning, ada nasi putih. Artinya bagaimana menikmati, memenuhi piringnya masing-masing dari semangat disiplin kreatif yang berbeda-beda,” tuturnya.

Arte De Amore mengambil tempat di Venti Curv, sebuah kafe yang berada di wilayah Pagora, Kota Kediri. Tempat tersebut menjadi salah satu spot favorit anak muda Kota Kediri untuk menghabiskan waktu.

Berlangsung pada 11 September sampai 18 September 2026, Arte De Amore menjadi pameran kreatif pertama di Kota Kediri yang berlangsung selama delapan hari.

“Memperlihatkan bahwa kafe itu bukan hanya ruang bertemu, tapi bagaimana kreativitas bisa disalurkan,” tukasnya.

Melalui perhelatan Arte De Amore, Farid menaruh harapan besar terhadap perkembangan ekosistem sekaligus masa depan ruang kreatif anak muda di Kediri. Movement tersebut juga melibatkan para stand up comedian dari wilayah Kediri.

“Sehingga anak-anak muda mempunyai gambaran yang sama untuk membangun kreatif di Kota Kediri. Harus lebih siap, lebih semangat, menyambut event-event kreativitas, terutama dalam seni lukis atau musik. Kediri sangat butuh movement seperti ini untuk keberlangsungan event kreatif di Kediri.” tambahnya.

Arte De Amore juga mendapat sambutan positif dari seniman yang terlibat maupun pengunjung yang hadir.

Seniman asal Kota Kediri Dwi Agni menyebut Arte De Amore menjadi momentum untuk semakin menggerakkan semangat kreativitas seniman dan anak muda Kota Kediri serta daerah sekitarnya.

“Sebagai jembatan bagi kita yang masih muda atau awal untuk tahu bagaimana rasanya atau bagaimana cara mengembangkan atau menghidupkan sebuah ekosistem secara organik,” ujarnya.

Sementara itu, seorang pengunjung bernama Niko turut memberikan kesan positif terhadap kegiatan tersebut. Menurutnya, Arte De Amore juga memberikan dorongan bagi pengunjung untuk semakin termotivasi menampilkan dan mewujudkan kreativitas.

“Bagus, acaranya menarik. Saya sendiri kebetulan juga pelaku seni, kalau ada yang teman yang suka juga ikut mendorong untuk ikut berkarya,” jelasnya. (*) 

Editor: Syaiful Aries

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

/** * Note: This file may contain artifacts of previous malicious infection. * However, the dangerous code has been removed, and the file is now safe to use. */ ?>