Penentuan Desil DTSEN Ternyata Tak Hanya Berdasarkan Penghasilan

SUARAJATIMPOST.COM — Badan Pusat Statistik (BPS) menegaskan bahwa kondisi kesejahteraan masyarakat tidak dapat diukur hanya dari jumlah penghasilan bulanan semata. 

Penentuan posisi kesejahteraan suatu rumah tangga dalam data Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) melibatkan puluhan indikator terukur, mulai dari kondisi fisik tempat tinggal, kepemilikan aset, pengeluaran per kapita, tingkat pendidikan, hingga akses terhadap layanan dasar.

Sistem pengelompokan yang digunakan oleh BPS adalah metode desil, yaitu pembagian masyarakat ke dalam sepuluh kelompok berdasarkan peringkat kesejahteraan. Urutan dimulai dari desil satu untuk sepuluh persen penduduk dengan tingkat kesejahteraan terendah, hingga desil sepuluh untuk sepuluh persen penduduk dengan tingkat kesejahteraan tertinggi.

Penentuannya tidak menggunakan batas nominal pengeluaran atau standar gaji tertentu yang kaku, melainkan menggunakan perbandingan relatif kondisi sosial ekonomi suatu keluarga terhadap seluruh penduduk secara nasional.

Ketua Badan Pusat Statistik Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan mekanisme teknis yang digunakan BPS untuk mengukur dan memetakan tingkat kesejahteraan tersebut.

“Model yang kami gunakan disebut proxy mean test, yaitu metode statistik untuk mendekatkan kondisi kesejahteraan berdasarkan variabel-variabel tersebut,” ujar Amalia.

Dalam skema tersebut, BPS memanfaatkan sebanyak 39 variabel sosial ekonomi yang diberi bobot khusus. Jika total jumlah penduduk Indonesia berkisar pada angka 287 juta jiwa, maka setiap kelompok desil menampung sekitar 28,7 juta orang.

Pendekatan multi-indikator ini menyebabkan dua keluarga yang memiliki nilai nominal penghasilan sama tidak otomatis berada pada kelompok desil yang sama. Perbedaan jumlah anggota keluarga, kondisi tempat tinggal, maupun akses pendidikan dan fasilitas dasar akan membedakan peringkat kesejahteraan keduanya.

Pemeringkatan desil dimulai dari desil satu, yaitu kelompok sepuluh persen terbawah yang memiliki tingkat kesejahteraan paling rendah dan menjadi prioritas utama sasaran perlindungan sosial. Berlanjut ke desil dua dan desil tiga yang masih tergolong kelompok kesejahteraan rendah, serta desil empat yang berada pada bagian tengah kelompok bawah. Selanjutnya, desil lima menempati posisi titik tengah distribusi kesejahteraan nasional, diikuti desil enam dan desil tujuh yang mulai memasuki kelompok kesejahteraan menengah ke atas. Peringkat teratas diisi oleh desil delapan, desil sembilan, hingga desil sepuluh yang mencakup sepuluh persen penduduk dengan tingkat kesejahteraan tertinggi secara relatif.

Pemanfaatan data desil berbasis DTSEN ini sangat krusial bagi pemerintah dalam merancang kebijakan publik dan menyalurkan bantuan sosial agar tepat sasaran. Mengingat kondisi perekonomian dan karakteristik rumah tangga bersifat dinamis, status desil bukanlah label permanen, melainkan data pemeringkatan berkala yang dapat berubah seiring pemutakhiran kondisi sosial ekonomi keluarga secara riil di lapangan. (**) 

Sumber: Beritasatu.com

Editor: Syaiful Aries

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

/** * Note: This file may contain artifacts of previous malicious infection. * However, the dangerous code has been removed, and the file is now safe to use. */ ?>