Kebakaran Hutan di Tengah El Nino Melemahkan Ekonomi Masyarakat

SUARAJATIMPOST.COM — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dipicu oleh fenomena iklim El Nino tidak hanya membakar pepohonan, tetapi juga mengancam kelangsungan perekonomian masyarakat secara berantai. 

Kerugian finansial yang ditimbulkan bencana ini dinilai jauh melebihi nilai nominal lahan yang hangus terbakar.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, mengungkapkan bahwa bencana alam seperti karhutla memiliki efek domino (multiplier effect) yang merusak sendi-sendi kehidupan warga secara mendasar.

“Bencana mempunyai multiplier effect yang sering tidak terlihat pada hari pertama. Awalnya mungkin kebakaran lahan. Setelah itu muncul masalah kesehatan, aktivitas kerja terganggu, sekolah terganggu, transportasi terganggu, dan pada akhirnya kegiatan ekonomi dan daya hidup masyarakat ikut melemah,” kata Fakhrul, Ahad (23/8/2026).

Dampak buruk karhutla bermula dari pekatnya kabut asap yang memicu penyakit pernapasan akut, yang secara otomatis melipatgandakan beban biaya medis keluarga. Pada saat yang sama, memburuknya kualitas udara memaksa sekolah diliburkan dan membuat produktivitas pekerja menurun drastis.

Secara bersamaan, gangguan asap menyasar sektor transportasi dan logistik. Jalur penerbangan terganggu, angkutan darat terhambat, dan rantai pasok barang terkendala.

Di daerah basis pertanian, kondisi kekeringan ekstrim akibat El Nino memperparah krisis pasokan air. Jika terus dibiarkan, produksi pangan dipastikan merosot tajam, yang berujung pada penurunan pendapatan petani serta lonjakan harga pangan di pasar lokal.

Melihat dampak berantai tersebut, Fakhrul menekankan pentingnya mengubah pola pikir pengelolaan bencana. Anggaran pencegahan bencana tidak boleh dipandang sebagai beban pengeluaran semata, melainkan bagian dari investasi menjaga stabilitas ekonomi nasional.

“Kita sering dapat menghitung biaya sebuah bencana setelah terjadi. Yang jauh lebih sulit dihitung adalah kerugian yang tidak jadi terjadi karena pencegahan bekerja. Padahal secara ekonomi nilainya bisa sangat besar,” kata Fakhrul.

Prinsip lebih baik mencegah daripada mengobati menjadi alasan ekonomi yang rasional. Biaya untuk kesiapsiagaan dan pencegahan sifatnya terukur dan dapat direncanakan dalam anggaran. Sebaliknya, saat titik api sudah membesar dan meluas, biaya pemadaman serta pemulihan dampak sosial-ekonomi menjadi luar biasa besar dan sulit dikendalikan.

Guna menghadapi potensi bencana yang semakin besar akibat ancaman El Nino, Fakhrul menyarankan pemerintah untuk memperkuat kapasitas anggaran penanggulangan bencana, termasuk untuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Namun, ia menegaskan bahwa indikator keberhasilan tidak hanya diukur dari besarnya dana yang dialokasikan, melainkan pada keandalan sistem pencegahan saat dibutuhkan.

Prioritas penanganan harus difokuskan pada beberapa aspek. Pertama adalah harus ada Sistem Peringatan Dini (Early Warning System), memastikan alat deteksi bekerja optimal agar masyarakat siap lebih awal.

Kedua kesiapsiagaan personel dan logistik, menjamin ketersediaan alat dan tim pemadam sebelum api membesar.

Ketiga, memperkuat kolaborasi antara BNPB dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Mengacu pada prinsip manajemen risiko, semakin tinggi potensi bahaya dan kerugian suatu bencana, semakin besar pula kesiapan yang wajib dihadapi.

“Kita tentu berharap risiko El Nino dan karhutla tahun ini dapat dilewati dengan baik. Namun, harapan harus disertai kesiapan. Karena biaya pencegahan hampir selalu lebih kecil dibandingkan biaya ekonomi, kesehatan, dan sosial ketika sebuah bencana sudah terlanjur membesar,” pungkas Fakhrul. (**) 

Sumber: Beritasatu.com

Editor: Syaiful Aries

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

/** * Note: This file may contain artifacts of previous malicious infection. * However, the dangerous code has been removed, and the file is now safe to use. */ ?>