SITUBONDO, SJP–Musim kemarau panjang memicu krisis air bersih yang kian meluas dan menjadi persoalan serius di Kabupaten Situbondo.
Salah satu wilayah terdampak paling parah adalah Desa Gunung Putri, Kecamatan Suboh. Kondisi sulit ini diketahui telah berlangsung selama empat bulan terakhir.
Demi memenuhi kebutuhan harian, warga terpaksa berjalan kaki hingga sejauh 2 kilometer menuju sumber mata air yang tersisa.
Bagi warga yang tak sanggup berjalan jauh, opsi membeli air menjadi satu-satunya pilihan untuk menyambung hidup.
Kondisi memprihatinkan ini diakui oleh salah seorang warga setempat, Sumina (63). Keterbatasan fisik akibat usia lanjut membuatnya tak mampu mengambil air langsung ke lokasi sumber yang jauh.
“Kami terpaksa membeli air jiregen yang di jual warga, karena untuk mengambil langsung ke Sumber air jaraknya jauh dan kondisi saya sudah tua, sedangkan sumber air dekat pemukiman warga sudah kering, untuk itu kami berharap pemerintah memberikan solusinya,” kata Sumina, Selasa (1/9/2026).
Menanggapi kendala berat yang dihadapi warga, Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo turun tangan meninjau langsung kondisi masyarakat sekaligus berdiskusi terkait solusi penanganan krisis air bersih di Desa Gunung Putri pada Selasa (1/9/2026).
Didampingi jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, Bupati menelusuri langsung kondisi pemukiman hingga mengecek sumber mata air yang masih tersedia di wilayah tersebut.
Di sela peninjauan, Bupati yang karib disapa Mas Rio ini menegaskan bahwa penanganan kekeringan di Desa Gunung Putri tidak bisa sekadar mengandalkan bantuan jangka pendek berupa pengiriman tangki air bersih. Menurutnya, pemerintah daerah perlu memfasilitasi ketersediaan sumber air permanen yang lokasinya lebih dekat dengan pemukiman warga.
“Untuk mengatasi krisis air bersih, tahun ini kita sudah anggarkan untuk pembangunan sumur bor. Ini menjadi salahsatu upaya agar masyarakat tidak mengalami kesulitan mendapatkan air bersih di saat musim kemarau,” ujar Mas Rio.
Sebagai langkah darurat selagi menunggu proses pembangunan sumur bor terealisasi, pemerintah daerah akan meningkatkan frekuensi distribusi bantuan air bersih menjadi tiga kali dalam sepekan. Langkah ini diharapkan mampu mencukupi kebutuhan harian warga terdampak.
Berdasarkan data yang dihimpun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Situbondo, bencana kekeringan saat ini telah berdampak pada sedikitnya 11.409 jiwa. Jumlah warga terdampak berpotensi terus bertambah apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang. (*)
Editor: Syaiful Aries