SURABAYA, SJP–Pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR dan DPR pada Jumat (14/8/2026) lalu mendadak viral dan memicu perbincangan publik. Dalam pidatonya, presiden sempat menyebut angka Rp 700.000 per kilogram terkait upah pengupas bawang. Namun, bagi para pekerja kasar di sudut Kota Surabaya, angka tersebut terasa bagai mimpi di siang bolong yang sangat jauh dari kenyataan hidup sehari-hari.
Fakta riil di lapangan merekam potret yang sangat bertolak belakang. Di riuhnya Pasar Tradisional Pabean, Surabaya, jemari para buruh pengupas bawang tak pernah berhenti bergerak sejak pagi hingga siang hari. Di tengah kepulan aroma menyengat dan rasa pedih yang menusuk mata, mereka bertaruh nasib demi mendapatkan rupiah yang nilainya jauh dari kata melimpah.
Para pekerja di Pasar Pabean rata-rata hanya mengantongi upah sekitar Rp 2.500 hingga Rp 3.000 untuk setiap satu kilogram bawang yang berhasil dikupas. Dalam kurun waktu seharian penuh, seorang pekerja umumnya hanya sanggup menyelesaikan kupasan sekitar 25 hingga 30 kilogram.
Sumrinyeh, salah satu pekerja yang sudah bertahun-tahun menggantungkan hidup dari tumpukan bawang, membeberkan secara rinci hitung-hitungan pendapatan bersih yang diterimanya setiap hari.
“Saya sudah 4 tahun menjadi pekerja pengupas bawang merah. Upah dari hasil mengupas bawang ini sebanyak Rp 2.500 bila bawangnya besar dan kalau bawangnya kecil yakni Rp 3.000 per kilogramnya. Dalam sehari saya bisa mengupas bawang sebanyak 25 kilogram,” ungkap Sumrinyeh saat ditemui di Pasar Pabean, Selasa (18/8/2026).
Jika dikalkulasikan, pendapatan yang dibawa pulang Sumrinyeh dalam sehari berkisar antara Rp 62.500 hingga Rp 75.000 angka yang tergolong amat minim jika dibandingkan dengan risiko kesehatan dan rasa perih yang harus ditahannya setiap hari.
Senada dengan Sumrinyeh, Suminah yang sehari-hari mengupas bawang putih juga mengakui telah mendengar riuh klaim angka Rp 700.000 yang viral tersebut. Meski tahu ada selisih bagai bumi dan langit antara pidato di pusat dan realita di bawah, Suminah memilih meresponsnya dengan kepala dingin.
“Saya tahu soal pernyataan Presiden tersebut yang ngomong soal Rp 700.000 per kilogram hasil mengupas bawang. Namun, kenyataannya yakni Rp 3.000 per kilogram saat saya mengupas bawang, dan saya bisa mengupas sebanyak 30 kilogram dalam sehari,” ujar Suminah.
Para buruh di Pasar Pabean mengaku tidak terlalu ingin ambil pusing atau mempermasalahkan silang pendapat angka-angka di panggung politik nasional. Keinginan mereka sebenarnya sangat sederhana dan membumi, mereka hanya berharap pemerintah mampu menjaga agar harga bahan pokok di pasar tetap stabil dan tidak melonjak naik.
Bagi warga kecil seperti mereka, stabilitas harga barang jauh lebih krusial daripada sekadar perdebatan angka upah yang simpang siur di ruang publik.
Meski nilai rupiah yang mereka terima tidak seberapa dan kondisi kerja menyiksa mata, semangat para pengupas bawang ini tidak pernah padam. Di balik tumpukan kulit bawang yang berserakan dan mata yang terus memerah, ada perjuangan mulia para penopang ekonomi keluarga agar dapur di rumah mereka tetap bisa menyala. (**)
Sumber: Beritasatu.com
Editor: Syaiful Aries