Ada Harapan di Balik Air Siraman Gong Kiai Pradah yang Diburu Warga Blitar

BLITAR, SJP – Suasana berbeda terlihat di Alun-Alun Lodoyo, Kabupaten Blitar, Jawa Timur pada Kamis (27/8/2026). Sejak pagi, ribuan warga berdatangan untuk mengikuti tradisi siraman Gong Kiai Pradah yang bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Di tengah kerumunan warga yang ingin menyaksikan prosesi, ada satu hal yang juga dinantikan. Air bekas siraman Gong Kiai Pradah menjadi buruan sejumlah pengunjung.

Mereka rela datang lebih awal dan menunggu hingga prosesi selesai demi mendapatkan air tersebut.

Gino (55), warga Desa Kedungwungu, Kecamatan Binangun, menjadi salah satu warga yang sengaja datang sejak pagi. Ia bersama istrinya telah berada di lokasi sekitar pukul 06.00 WIB.

“Saya tadi sampai di sini pukul 06.00 WIB,” ujar Gino, Kamis (27/8/2026).

Bagi Gino, tradisi siraman Gong Kiai Pradah bukan sekadar agenda tahunan. Ia mengaku hampir setiap tahun datang untuk menyaksikan prosesi sekaligus membawa pulang air bekas siraman.

Air tersebut nantinya akan digunakan untuk mandi. Gino percaya air bekas siraman Gong Kiai Pradah dapat membawa kebaikan bagi dirinya dan keluarga.

“Iya, saya ingin mendapatkan air bekas memandikan Gong Mbah Pradah. Biasanya airnya saya gunakan untuk mandi. Biar sehat dan rezeki lancar,” katanya.

Bukan hanya Gino. Pengunjung lain juga memiliki keyakinan serupa terhadap air dan bunga yang tersisa setelah prosesi siraman.

Deni, salah seorang pengunjung, berharap bisa mendapatkan bagian dari air maupun bunga bekas siraman. Ia meyakini benda tersebut dapat menjadi simbol keberkahan sekaligus tolak bala.

“Supaya dapat berkahnya dan tolak bala penyakit,” ucapnya.

Kepercayaan tersebut membuat suasana di sekitar lokasi semakin ramai ketika prosesi siraman berlangsung. Warga berusaha mendekat dan bersiap menunggu air yang nantinya dibagikan.

Tradisi siraman Gong Kiai Pradah merupakan ritual budaya yang rutin digelar setiap tahun bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kegiatan tersebut menjadi salah satu tradisi yang hingga kini masih dipertahankan masyarakat Blitar.

Selain prosesi siraman, kawasan Alun-alun Lodoyo juga diramaikan dengan kegiatan bazar. Tahun ini, prosesi turut dihadiri Bupati Blitar Rijanto bersama jajaran Forkopimda Kabupaten Blitar.

Bagi masyarakat, Gong Kiai Pradah tidak hanya memiliki nilai sejarah dan budaya. Tradisi siramannya juga menjadi momen yang dinantikan warga dari berbagai wilayah untuk berkumpul dan menyaksikan langsung warisan budaya tersebut.

Usai prosesi, air bekas siraman dibagikan kepada masyarakat. Sebagian warga kemudian membawanya pulang.

Ada yang berharap kesehatan, ada yang menginginkan keselamatan, dan ada pula yang berharap kehidupannya semakin dipenuhi keberkahan dan rezeki.

Di situlah tradisi tahunan ini memiliki cerita tersendiri. Di balik keramaian dan prosesi budaya, tersimpan harapan warga yang mereka bawa pulang bersama air siraman Gong Kiai Pradah. (*)

Editor : Rizqi Ardian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

/** * Note: This file may contain artifacts of previous malicious infection. * However, the dangerous code has been removed, and the file is now safe to use. */ ?>