GRESIK, SJP — PT Petrokimia Gresik, perusahaan Solusi Agroindustri anggota holding PT Pupuk Indonesia (Persero), membuktikan bahwa sektor pertanian modern mampu menjadi magnet bagi Generasi Z.
Melalui program School Lab Farming yang melibatkan 261 siswa di tiga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) pertanian di Jawa Timur, para siswa diajak menerapkan sistem pertanian presisi sekaligus mengelola lahan sekolah sebagai ruang belajar, produksi, dan pengembangan bisnis.
Hasil penerapan teknologi pertanian modern ini menunjukkan lonjakan produktivitas yang signifikan.
Di SMK Negeri 1 Kademangan, Blitar, para siswa berhasil memanen 800 kilogram bawang merah kering dari lahan seluas 1.000 meter persegi.
Capaian ini meningkat lebih dari lima kali lipat dibandingkan musim tanam sebelumnya yang hanya menghasilkan sekitar 150 kilogram dari luas lahan yang sama.
Selain bawang merah, budidaya buah melon di dalam greenhouse SMK Negeri 1 Kademangan juga mencatatkan tingkat kemanisan hingga 15 Brix.
Hasil memuaskan serupa turut diraih oleh SMK Negeri 8 Jember dan SMK Muhammadiyah 5 Gresik. Kedua sekolah tersebut sukses membudidayakan varietas melon berbeda dengan bobot berkisar 1,2 hingga 2 kilogram per buah serta tingkat kemanisan minimal 15 Brix.
Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk mengubah pandangan generasi muda terhadap dunia pertanian melalui pendekatan teknologi modern.
“Melalui School Lab Farming, kami ingin menunjukkan kepada generasi muda bahwa pertanian saat ini sudah berkembang jauh. Dengan dukungan teknologi smart farming dan pengelolaan lahan sekolah sebagai teaching factory yang produktif, siswa tidak hanya belajar bercocok tanam, tetapi juga memahami bagaimana pertanian dapat dikelola secara modern dan memiliki prospek usaha yang menjanjikan,” ujar Daconi Khotob, Selasa (8/9/2026).
Daconi menambahkan, School Lab Farming merupakan bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Petrokimia Gresik. Program ini tidak sekadar memberikan bantuan sarana produksi pertanian, melainkan juga mendorong optimalisasi aset sekolah agar dapat difungsikan sebagai unit produksi yang bernilai ekonomi.
“Ketika siswa melihat sendiri bahwa lahan yang mereka kelola mampu menghasilkan produk berkualitas dan memiliki nilai jual, mereka mendapatkan perspektif baru tentang pertanian,” jelasnya.
Inisiatif tersebut mendapat apresiasi positif dari pihak sekolah. Kepala SMK Negeri 1 Kademangan, Hadi Sucipto, menyampaikan bahwa program ini memberikan pengalaman berharga bagi para siswa dalam mengoperasikan teknologi pertanian presisi dan membaca peluang bisnis di sektor agro.
“Harapannya, pengalaman ini dapat menumbuhkan semakin banyak generasi muda yang tertarik mengembangkan sektor pertanian sekaligus turut mendukung terwujudnya pertanian berkelanjutan dan ketahanan pangan nasional,” tutup Hadi Sucipto. (**)
Editor: Syaiful Aries