MOJOKERTO, SJP — Ribuan anak sekolah di Mojokerto kini bisa menikmati buah jeruk segar dan manis dalam porsi makan bergizi mereka sehari-hari. Jeruk-jeruk bernutrisi tinggi tersebut lahir dari tangan dingin para petani lokal yang berhasil mengubah lahan terbengkalai di pinggir sungai menjadi perkebunan produktif.
Melalui Kelompok Tani Bangun Jaya, bantaran Sungai Balongcangkring II seluas 10 hektare di Kelurahan Pulorejo, Kecamatan Prajuritkulon, Kota Mojokerto, yang dahulunya tak dilirik orang, kini disulap menjadi hamparan hijau kebun jeruk Siam Madu.
Langkah inovatif ini tidak hanya menggerakkan roda ekonomi warga setempat, tetapi juga menjadi penopang utama program pemenuhan gizi anak-anak sekolah di wilayah tersebut.
Hasil panen kebun bantaran sungai ini dialokasikan secara khusus untuk mendukung kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mojokerto. Buah jeruk dijadikan menu tambahan wajib guna melengkapi kecukupan gizi harian para siswa.
Kepala SPPG Jabon Mojokerto, Yanse Young Pribadi, menyampaikan apresiasi mendalam atas kemitraan strategis yang terjalin bersama Kelompok Tani Bangun Jaya. Menurutnya, skema ini menciptakan ekosistem saling menguntungkan antara kesehatan anak dan kesejahteraan petani.
“Kita ingin memberdayakan petani kita sendiri. Kalau petani maju, anak-anak kita juga ikut sehat dan maju,” ujar Yanse.
Dalam sekali siklus panen besar, kebun ini mampu menghasilkan hingga 5 sampai 6 kuintal jeruk Siam Madu. Kendati demikian, para petani memilih untuk tidak meraup seluruh hasil panen sekaligus. Mereka menerapkan strategi pemetikan bertahap agar pasokan buah ke sekolah-sekolah tidak terputus.
Ketua Kelompok Tani Bangun Jaya, Eko Darsono, menjelaskan bahwa pola panen disesuaikan secara presisi dengan jadwal kebutuhan pasokan dari pihak SPPG.
“Kita tidak mau buru-buru. Biar terus ada, biar anak-anak terus dapat. Kemarin kami panen tiga kuintal. Hasilnya langsung untuk SPPG,” kata Eko.
Kerja keras kelompok tani ini mulai membuahkan hasil finansial yang nyata. Dari setiap tahap pemetikan sebanyak 3 kuintal jeruk, kelompok tani mengantongi pendapatan sekitar Rp1,5 juta dengan patokan harga jual Rp15.000 per kilogram.
Pendapatan tersebut diputar kembali secara transparan untuk membiayai operasional kebun, seperti pembelian pupuk dan nutrisi tanaman, biaya pemeliharaan rutin dan upah bagi warga sekitar yang dilibatkan dalam perawatan lahan.
Keberhasilan ini tidak diraih dalam semalam. Di bawah kepemimpinan Eko Darsono, sebanyak 20-an anggota kelompok tani dengan tekun menanam dan merawat 200 pohon jeruk Siam Madu sejak lima tahun lalu.
Kini, pohon-pohon yang sudah berusia 5 tahun tersebut menjadi bukti konkret bahwa lahan marjinal seperti bantaran sungai pun sanggup menghasilkan komoditas bernilai tinggi jika dikelola secara sungguh-sungguh dan terencana. (*)
Editor: Syaiful Aries