SIDOARJO, SJP — Korban dugaan keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang disuplai oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Tanggulangin, terus meluas.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sidoarjo mengonfirmasi total korban yang menjalani perawatan medis kini telah menembus angka 746 orang.
Jumlah tersebut mencatat lonjakan sebanyak 82 pasien baru dibandingkan data pada Kamis (3/9/2026) yang berada di angka 664 korban.
Ratusan pasien tersebut dirawat di sejumlah fasilitas kesehatan, termasuk rumah sakit rujukan utama seperti RSUD R. T Notopuro dan RSI Siti Hajar.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina, merinci bahwa data tersebut dihimpun berdasarkan rekapitulasi penanganan medis di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan hingga Kamis malam.
“Update korban keracunan makanan Ponpes Manbaul Hikam yang merasakan keluhan dan mendapatkan perawatan medis di fasyankes, dengan cut off data 3 September 2026 pukul 21.00 WIB, jumlahnya 746 pasien,” ujar dr. Lakhsmie pada Jumat (4/9/2026).
Ia menjelaskan bahwa dari total ratusan korban yang ditangani, mayoritas pasien telah dinyatakan membaik, meski puluhan lainnya masih membutuhkan perawatan intensif dari tim medis.
“Dari 746 pasien, sebanyak 23 orang masih menjalani rawat inap. Sementara 723 pasien lainnya telah diperbolehkan pulang atau mendapatkan pelayanan rawat jalan,” jelasnya.
Berdasarkan penelusuran epidemiologi Dinkes Kabupaten Sidoarjo, 746 korban keracunan tersebut berasal dari tujuh lembaga pendidikan jenjang SMP hingga SMA di wilayah Kecamatan Tanggulangin, termasuk para santri dari Ponpes Manba’ul Hikam.
Secara operasional, Dapur SPPG Kalitengah memproduksi serta mengalokasikan sekitar 2.800 paket MBG setiap harinya ke 19 lembaga pendidikan di Kecamatan Tanggulangin. Dari total pasokan harian tersebut, sebanyak 1.000 paket didistribusikan khusus untuk santri jenjang MTs dan MA di Ponpes Manba’ul Hikam.
Dinkes Sidoarjo menegaskan hingga kini masih terus memantau perkembangan kesehatan para pasien, baik yang menjalani rawat inap maupun rawat jalan, guna mengantisipasi munculnya gejala susulan di lapangan. (**)
Sumber: Beritasatu.com
Editor: Syaiful Aries