Melihat Evolusi Topeng Barongan Dari Masa ke Masa

KEDIRI, SJP – Dalam kesenian jaranan, barongan muncul di akhir, sebagai puncak pertunjukan. Meski menjadi bagian tak terpisahkan dari kesenian jaranan, namun barongan punya keunikan yang membuatnya menjadi daya tarik tersendiri. 

“Barongan menurut mitologi adalah penggambaran sifat buruk manusia. Ada yang digambarkan sebagai buto, ada yang digambarkan sebagai naga, ular. Kalau tidak bisa mengendalikan, manusia itu akan berubah menjadi barongan yang agresif dan penuh hawa nafsu,” ujar Ketua Pelaksana Abirama 2 Rasa Rupa Topeng Barong Kediri Prastyawan, Jumat, (21/8/2026). 

Motif, warna, bentuk barongan sendiri terus berevolusi dari tahun ke tahun. Tidak sekedar mengikuti alur cerita dalam jaranan tapi menjadi salah satu bagian yang paling ditunggu dalam pertunjukan jaranan. 

“Mengikuti style jaranan juga. Semakin bertambah zaman, ada beberapa seniman yang tingkat inovatifnya lebih tinggi, kreativitasnya semakin berubah-ubah juga modelnya. Tapi model ( ciri khas ) barongan Kediri tidak ditinggalkan,” tambahnya. 

Prastyawan mengungkapkan model atau ciri khas barongan Kediri memiliki perbedaan jika dibandingkan dengan model topeng barongan dari Blitar atau Tulungagung. 

“Secara menyeluruh hampir sama, membedakannya di bentuk mulut. Kalau yang lain bentuk mulutnya berpola segitiga, kalau Kediri dikembangkan jadi lebih seperti mulut manusia. Jadi bentuk mulutnya lebih berpola M, seperti manusia,” jelasnya. 

Abirama 2 Rasa Rupa Topeng Barong Kediri sendiri menampilkan lebih dari 50 jenis dan model topeng barongan. Tidak hanya dimiliki oleh komunitas jaranan, tapi juga ada yang dimiliki oleh para kolektor.

Salah satu koleksi topeng barongan tertua yang ikut ambil bagian dibuat pada era tahun 60an. Di perhelatan kedua ini, jumlah koleksi yang dipamerkan lebih banyak dari sebelumnya. Dari era tersebut, sampai era diatas tahun 2020 terlihat jelas, barongan semakin berkembang lebih menarik.

“57 barongan dari berbagai tempat. Bengkulu, Sumatera yang paling jauh. Sisanya ada dari wilayah karesidenan Kediri seperti Blitar, Tulungagung serta Kediri. Yang ikut serta lebih banyak karena teman-teman semakin sudah sadar akan pentingnya pelestarian kebudayaan, kesenian khususnya di kesenian barongan yang ikonik di Kabupaten Kediri,” ungkapnya. 

Prastyawan yang juga merupakan seniman seni ukir itu, mengungkapkan pengunjung yang datang juga banyak. Mulai dari kalangan penggemar jaranan dan barongan sampai para pelajar. Apalagi tidak hanya pameran, di Abirama 2 Rasa Rupa Topeng Barong Kediri juga digelar berbagai lomba. Mulai dari melukis sampai memahat topeng barong.  

“Dari seniman jaranan sendiri yang ingin tahu barongan dari zaman dulu itu bentuknya seperti apa. Terus dari umum juga banyak. Khususnya di sekolah-sekolah, para guru mengajak murid-muridnya,” jelasnya. 

Seniman dari sanggar Kriya Ningrat, Kediri itu berharap dari pameran ini, topeng barongan Kediri bisa terus terjaga kelestariannya.

“Untuk edukasi ke masyarakat luas, khususnya bagi para pemuda itu saling melestarikan kesenian. Walaupun sekarang di era digital, tapi kesenian dan kebudayaan lokal khususnya di Kabupaten Kediri harus kita ketahui minimal dilestarikan. Kalau bukan kita pemuda, siapa lagi yang akan melestarikannya,” ujarnya. 

Sementara itu, salah satu seniman barongan asal Kota Kediri Iqbal Dimas mengungkapkan, melalui kegiatan ini masyarakat bisa lebih mengetahui tentang topeng barongan, bahwa jenis dan rupa barongan tidak monoton. 

“Dari tahun ke tahun berevolusi. Dari 60an sampai 2000 yang terlihat adalah meningkatnya kreativitas seorang pengrajin, warna juga lebih kaya. Karena mungkin dari segi cat dulu jarang ada yang jual, tapi sekarang sudah banyak,” ujarnya. (*)

Editor : Rizqi Ardian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

/** * Note: This file may contain artifacts of previous malicious infection. * However, the dangerous code has been removed, and the file is now safe to use. */ ?>