Mubes ke&2 Nahdlatut Turots di Jombang Tegaskan Peran Filolog Santri Rawat Warisan Ulama

JOMBANG, SJP – Ratusan pegiat turats dari berbagai daerah di Nusantara berkumpul di Pondok Al-Muhajirin 3 Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, dalam ajang Musyawarah Besar (Mubes) ke-2 Nahdlatut Turots (NT). Pertemuan yang berlangsung bertepatan dengan rangkaian Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat peran filolog santri dalam merawat warisan keilmuan ulama, sekaligus merumuskan langkah pembaruan publikasi turats hingga ke tingkat internasional.

Sebanyak 170 peserta yang mewakili 87 lembaga dan komunitas hadir dalam kegiatan tersebut. Acara ini juga diikuti oleh sejumlah tokoh nasional dan akademisi, di antaranya Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Oman Fathurrohman, Ketua NT Lora Usman Hasan Al-Akhyari, Sekretaris NT Dr. Ahmad Karomi, serta jajaran pengurus pondok pesantren dan perwakilan sponsor.

Dalam forum tersebut, perwakilan NT, Dr. KH. Ahmad Najid, menegaskan pentingnya kontribusi para pegiat turats sebagai filolog santri yang menjaga keberlangsungan intelektual Islam klasik.

“Ini sebagai bentuk jihad dalam merawat warisan ilmu dari para ulama terdahulu,” ujarnya.

Kiai yang akrab disapa Gus Najib ini menjelaskan bahwa Mubes kali ini merupakan kelanjutan dari Mubes pertama yang digelar pada Muktamar NU Lampung 2022 lalu, saat gerakan Nahdlatut Turots resmi dideklarasikan.

Sesi pemaparan materi menghadirkan Dr. KH. Afifuddin Dimyathi yang mengulas dinamika proses kreatif dalam penulisan turats. Ia menyebutkan bahwa inspirasi menulis dapat bersumber dari pengalaman pribadi, orang lain, maupun atas permintaan pihak lain, yang pada hakikatnya merupakan amanat dari Allah.

“Pengalaman saya sendiri menulis lebih banyak karena aktivitas mengajar. Sehingga sampai merasakan kenikmatan dalam menulis, meskipun sekarang saya sendiri berhenti menulis dulu,” katanya.

Ia menambahkan, penulisan turats memiliki beragam tujuan, mulai dari pencetakan, pengoleksian, hingga komersialisasi.

Pada sesi lain, Dr. Anas Al-Hifni dari Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan menyoroti tantangan globalisasi turats. Menurutnya, karya-karya turats perlu meluas melampaui batas bahasa Arab.

“Tapi bagaimana turats bisa dialihbahasakan ke Inggris atau Cina agar makin internasional,” ujarnya.

Anas juga menekankan pentingnya profesionalisme dan pembagian peran dalam ekosistem publikasi turats agar pengerjaannya berjalan efektif.

“Yang sudah menjadi penulis, tidak usah menjadi distributor. Nanti keduanya akan buyar jika dilakukan oleh orang yang sama,” pesannya, seraya menyatakan kesiapannya untuk membuka jaringan pendukung perkembangan turats.

Apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini disampaikan oleh Pengasuh Pondok Al-Muhajirin 3, KH. Ali Zamroni.

“Semoga kegiatan ini makin mendorong kita berbuat kebaikan untuk merawat warisan ulama,” pungkasnya.

Rangkaian Mubes ditutup dengan pelaksanaan shalat Maghrib berjamaah, pembacaan shalawat Nabi, serta penganugerahan ijazah sanad keilmuan dari para kiai sepuh kepada seluruh peserta.  (*)

Editor: Danu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

/** * Note: This file may contain artifacts of previous malicious infection. * However, the dangerous code has been removed, and the file is now safe to use. */ ?>