TULUNGAGUNG, SJP – Bulan Agustus tak hanya menghadirkan semarak perayaan kemerdekaan. Bagi para perajin trofi, momentum ini juga menjadi musim datangnya pesanan. Salah satunya dirasakan Wasis, perajin trofi berbahan batu marmer asal Desa Gamping, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung. Jumat (21/8/2026).
Sejak dua bulan terakhir, aktivitas di tempat produksinya berubah lebih sibuk. Pesanan berbagai komponen trofi meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan hari-hari biasa. Bahan baku yang biasanya mudah diperoleh pun mulai sulit didapat karena tingginya permintaan.
Perjalanan Wasis sampai berada di titik ini ternyata tidak berlangsung singkat. Ia mengawali usaha dari keterbatasan, setelah sebelumnya bekerja di tempat milik tetangganya. Pada 2018, ia memberanikan diri membawa pekerjaan itu ke rumah sendiri dan mulai membangun usaha secara perlahan.
“Awalnya saya kerja di tempat tetangga. Dari 2018 saya kerja di rumah. Awal itu modalnya pinjam mas kawin istri,” ujar Wasis.
Dengan modal tersebut, Wasis tidak langsung memproduksi trofi dalam jumlah besar. Ia memulainya dari puluhan hingga ratusan komponen, kemudian mengirimkannya kepada pelanggan. Dari satu pesanan kecil, perlahan datang pesanan berikutnya dengan jumlah yang semakin besar.
“Waktu itu 100 biji, 100 biji saya bawa pulang, saya kirim. Kemudian ada pesanan lagi 500. Lama-lama ya semakin besar,” tuturnya.
Jalan usahanya semakin terbuka ketika Wasis mulai memanfaatkan media sosial. Foto-foto hasil produksinya diunggah melalui Facebook untuk menjangkau calon pembeli. Ketika pandemi Covid-19 melanda, ia justru mengambil langkah baru dengan membuka toko daring melalui Shopee.
Langkah tersebut membuat jangkauan pasarnya semakin luas. Pesanan yang datang memang tidak selalu dalam jumlah besar, tetapi terus mengalir. Dari situlah usaha yang semula dirintis perlahan mulai berkembang.
“Mulai besar itu pas ada Corona. Saya buka toko Shopee. Ya lumayan besar pesanan di situ,” kata Wasis.
Kini, momentum menjelang peringatan Hari Kemerdekaan menjadi salah satu periode tersibuk bagi usahanya. Bahkan peningkatan permintaan sudah terasa sejak Juni, bersamaan dengan musim kelulusan sekolah yang juga banyak membutuhkan trofi dan penghargaan.
Jika sebelumnya produksi rata-rata berada di kisaran 10 ribu keping komponen per bulan, kini jumlahnya bisa mencapai 20 ribu hingga 25 ribu keping. Lonjakan tersebut membuat Wasis tak hanya harus mengejar produksi, tetapi juga menghadapi persoalan baru: keterbatasan bahan baku.
“Untuk Agustus itu lumayan, Mas. Dari bulan Juni kemarin, waktu kelulusan itu lumayan. Kenaikan permintaan sampai dua kali lipat. Sebelumnya sebulan sekitar 10.000 pcs, sekarang bisa 20.000 sampai 25.000,” ungkapnya.
Di tengah tingginya permintaan, harga sejumlah produk pun ikut mengalami penyesuaian. Kenaikan harga dilakukan lantaran biaya dan ketersediaan bahan baku yang semakin menantang. Trofi ukuran kecil yang sebelumnya berada di kisaran Rp50 ribu kini menjadi sekitar Rp75 ribu. Sementara jenis berukuran lebih besar yang sebelumnya sekitar Rp450 ribu naik menjadi Rp500 ribu.
“Yang kecil 50.000, sekarang 75. Yang gede ini 500.000, sebelumnya 450,” jelas Wasis.
Meski begitu, ia masih melihat peluang pasar yang cukup besar. Trofi yang sudah dirakit dan siap dikirim lebih banyak dipasarkan di wilayah lokal karena material berbahan marmer memiliki risiko pecah ketika dikirim dalam kondisi utuh.
Karena itu, permintaan dari luar daerah lebih banyak datang dalam bentuk komponen. Mulai dari ornamen, bola dunia, kotak, alas, hingga tiang trofi dengan beragam bentuk dan ukuran.
“Kalau trofi yang rakitan sudah jadi itu lokal, Mas. Yang lokal, nggak keluar kota. Soalnya rawan pecah kalau rakitan. Jadi yang banyak itu komponennya saja, ornamennya,” ujarnya.
Pasarnya pun tak berhenti di Tulungagung. Sejumlah komponen hasil produksi Wasis telah dikirim ke berbagai daerah, termasuk Jakarta dan Palembang. Bali juga menjadi salah satu wilayah tujuan pesanan.
Di balik gemerlap trofi yang nantinya berdiri di atas panggung-panggung perayaan, ada proses panjang dari tangan para perajin. Dari sebuah usaha rumahan yang dimulai dengan modal pinjaman mas kawin, Wasis kini justru menghadapi persoalan yang berbeda, bagaimana memenuhi derasnya permintaan yang datang.
Agustus akhirnya bukan sekadar bulan perayaan bagi Wasis. Di antara pesanan yang terus berdatangan, sulitnya bahan baku, dan produksi yang harus dikebut, ada harapan bahwa setiap trofi yang meninggalkan bengkelnya akan menjadi bagian kecil dari cerita tentang prestasi, penghargaan, dan semangat kemerdekaan. (*)
Editor : Rizqi Ardian