PT Exel Mandiri Inovasi di Tengah Pergeseran Investasi, Tekanan Industri dan Fluktuasi Dolar

MALANG, SJP — Fluktuasi nilai tukar dolar, kenaikan biaya bahan, tekanan perpajakan hingga pergeseran investasi ke sejumlah negara Asia Tenggara menjadi rangkaian tantangan yang membentuk wajah industri manufaktur dalam beberapa tahun terakhir. 

Di tengah tekanan tersebut, PT Exel Mandiri Inovasi di Lawang, Kabupaten Malang, memilih bertahan dengan mempertahankan aktivitas usaha dan tenaga kerja.

Direktur/President PT Exel Mandiri Inovasi, Daya Sundara, mengungkapkan bahwa periode 2015 hingga 2019 menjadi salah satu fase yang cukup baik bagi industri manufaktur. Pada masa tersebut, pembangunan dan pengembangan fasilitas industri masih cukup bergairah di berbagai wilayah Jawa.

Sejumlah perusahaan besar, menurut Daya, masih melakukan ekspansi dan pembangunan pabrik. Kondisi itu turut membuka ruang pekerjaan bagi perusahaan penunjang industri seperti PT Exel Mandiri Inovasi.

Namun, pandemi Covid-19 menjadi titik balik. Karakter pekerjaan proyek yang membutuhkan aktivitas langsung di lapangan membuat sektor tersebut sulit menerapkan pola kerja dari rumah.

“Karena proyek kan tidak mungkin work from home,” ujar Daya.

Aktivitas proyek yang melambat kemudian memaksa perusahaan melakukan penyesuaian. Dari sekitar 120 pekerja pada masa sebelumnya, perusahaan harus mereduksi tenaga kerja dan mempertahankan pekerjaan yang dinilai masih memungkinkan berjalan, terutama maintenance.

Situasi mulai membaik setelah pandemi mereda. Memasuki 2023 hingga 2024, aktivitas industri kembali menunjukkan geliat. Namun, pemulihan tersebut belum sepenuhnya mengembalikan kondisi seperti sebelum pandemi.

Salah satu persoalan yang ikut membebani industri adalah biaya pengadaan bahan. Fluktuasi nilai tukar dolar menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan dalam rantai biaya industri, terutama ketika kebutuhan material berkaitan dengan komponen atau bahan yang memiliki keterkaitan dengan pasar internasional.

Tekanan biaya tersebut kemudian berkelindan dengan kebijakan perpajakan. Daya menyebut kenaikan pajak hingga 11 persen turut memberikan beban kepada pelanggan.

“Kenaikan pajak sampai 11 persen itu juga akhirnya membuat berat customer,” kata Daya, kepada Suarajatimpost.com, Ahad (30/8/2026)

Beban biaya yang meningkat membuat perusahaan pengguna jasa semakin berhitung dalam merealisasikan investasi. Pada saat yang sama, lanskap investasi manufaktur juga mengalami manuver ke kawasan Asia Tenggara.

Daya menyebut sejumlah perusahaan yang sebelumnya berencana membangun fasilitas produksi di Indonesia kemudian mempertimbangkan Vietnam dan Thailand sebagai lokasi investasi.

Perubahan tersebut, menurutnya, menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan penunjang industri di Indonesia. Ketika pembangunan fasilitas baru melambat, peluang proyek konstruksi, instalasi dan fabrikasi ikut mengalami penyusutan.

Ia mencontohkan sejumlah perubahan dalam industri besar, termasuk fasilitas produksi kopi Nescafé di Lampung yang menurutnya telah dipindahkan ke Thailand.

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa kompetisi industri bermanuver tidak hanya berlangsung antardaerah di Indonesia. Perusahaan juga dihadapkan pada kompetisi investasi regional yang membuat faktor efisiensi, biaya produksi, perpajakan dan ekosistem industri harus cepat beradaptasi.

Di tengah kondisi tersebut, PT Exel Mandiri Inovasi memilih memperkuat kemampuan survive. Jika sebelumnya pekerjaan proyek menjadi salah satu penopang utama, kini perusahaan lebih banyak mengandalkan maintenance dan pekerjaan berbasis manpower.

“Ya paling kita cuma bertahan saja. Masih ada karyawan kurang lebih 200-an,” ungkap Daya.

Menurutnya, pekerjaan yang berjalan saat ini sebagian besar berupa pemeliharaan. Sementara pada proyek tertentu, PT ini lebih banyak menyediakan tenaga kerja, sedangkan material biasanya dibeli atau disediakan oleh pihak pengguna jasa.

Strategi tersebut menjadi cara perusahaan menjaga keberlangsungan bisnis sekaligus mempertahankan sumber daya manusia (SDM) di tengah belum pastinya proyek baru.

Bagi industri seperti PT Exel Mandiri Inovasi, tekanan ekonomi tak hanya datang dari satu arah. Pandemi telah mengubah pola aktivitas proyek, biaya material menghadirkan tantangan tersendiri, fluktuasi dolar memengaruhi perhitungan biaya, sementara pajak dan kompetisi investasi kawasan turut menentukan keberanian perusahaan melakukan ekspansi.

Kini, investasi bergerak semakin selektif, kemampuan bertahan menjadi bagian penting dari keberlanjutan industri. PT Exel Mandiri Inovasi memilih menjaga kapasitas yang dimiliki sembari menunggu kembali terbukanya ruang pertumbuhan proyek.

Di Lawang, sekitar 200 pekerja masih menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Angka itu bukan sekadar jumlah tenaga kerja, tetapi menjadi gambaran bagaimana sebuah perusahaan lokal berupaya mempertahankan eksistensinya lanskap industri yang terus bergerak. (*) 

Editor: Syaiful Aries

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

/** * Note: This file may contain artifacts of previous malicious infection. * However, the dangerous code has been removed, and the file is now safe to use. */ ?>