Rayakan Hari Raya Karo, Warga Tengger Probolinggo Gelar Tari Sodoran

PROBOLINGGO, SJP — Masyarakat Suku Tengger di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, kembali menyelenggarakan ritual sakral Tari Sodoran sebagai puncak perayaan Hari Raya Karo Tahun 1948 Saka. 

Tradisi tahunan yang digelar oleh warga dari Desa Ngadisari, Wonokerto, dan Jetak ini menjadi simbol ungkapan syukur sekaligus bentuk pelestarian budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Rangkaian ritual diawali dengan pertemuan simbolis antara mempelai pria dari Desa Ngadisari dan mempelai wanita dari Desa Wonokerto, yang masing-masing diperankan oleh kepala desa setempat. 

Dalam prosesi adat tersebut, rombongan mempelai pria membawa perlengkapan ritual berupa jimat klontongan yang terdiri dari tanduk sapi, wadah air, serta bambu panjang menyerupai tombak.

Usai prosesi penyambutan, seluruh peserta berkumpul di Balai Desa Ngadisari. Acara dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin oleh Dukun Pandita Sutomo. 

Tepat setelah doa dipanjatkan, dua pasang penari laki-laki dari Desa Jetak dan Desa Ngadisari termasuk pasangan yang berperan sebagai pemeran mempelai tampil membawakan Tari Sodoran secara bergantian.

Tokoh Masyarakat Suku Tengger, Supoyo, menjelaskan bahwa Tari Sodoran mengandung makna filosofis mendalam mengenai penciptaan dan kehidupan.

“Jadi, Tari Sodoran ini merupakan salah satu ritual dalam Hari Raya Karo yang menggambarkan bumi beserta isinya, termasuk kehidupan umat manusia,” ujar Supoyo.

Suasana ritual berlangsung semakin hangat ketika rombongan ibu-ibu dan remaja putri dari ketiga desa datang membawa bekal makanan untuk disantap para peserta laki-laki. Kehadiran kaum perempuan ini menjadi bagian penting dalam tradisi, di mana pelaksanaan tarian dijalankan oleh kaum pria, sementara kaum wanita bertugas menyiapkan hidangan kebersamaan.

Supoyo menambahkan, perayaan ini memegang peranan penting dalam kalender adat masyarakat setempat sehingga keberadaannya selalu dijaga setiap tahun.

“Hari Raya Karo ini merupakan bulan kedua dalam kalender Suku Tengger, sehingga wajib dilaksanakan Upacara Karo,” imbuhnya.

Turut hadir dalam perayaan tersebut, Anggota DPR RI Dini Rachmania menilai bahwa seluruh rangkaian Hari Raya Karo yang berlangsung selama tujuh hari ini mencerminkan kuatnya nilai persaudaraan warga Tengger.

“Saya berharap Suku Tengger dapat menjadi contoh bahwa kita semua bersaudara, serta tidak lupa untuk selalu menjaga budaya dan adat istiadat Suku Tengger,” kata Dini Rachmania. (*) 

Editor: Syaiful Aries

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

/** * Note: This file may contain artifacts of previous malicious infection. * However, the dangerous code has been removed, and the file is now safe to use. */ ?>