Resonansi #1, Ketika Musisi Akar Rumput dan Eks Slank 'Bergema' di Rimbun Bambu Kediri

KEDIRI, SJP — Rimbun pepohonan bambu di Dojang Gunawan Taekwondo Club, Badas, Kabupaten Kediri, berubah menjadi panggung ekspresi yang hangat pada Ahad (23/8/2026) malam. Gelaran bertajuk Resonansi #1 sukses menyatukan semangat bermusik musisi lokal Kediri dengan isu krusial industri musik tanah air.

Tak sekadar panggung hiburan yang menampilkan sejumlah solois dan band lokal membawakan karya orisinal, acara ini juga membuka ruang diskusi kritis. Menghadirkan jajaran pengurus Wahana Musik Indonesia (WAMI) serta musisi senior Bongki Marcel (eks Slank), diskusi hangat mengenai transparansi dan tata kelola royalti menjadi menu utama yang memperkaya wawasan para pelaku seni.

Panggung pertunjukan dibuka oleh hentakan rap dari Alan ADB lewat nomor “Syukur”. Alunan ritmik tersebut seketika mencairkan suasana dan mengajak penonton mulai bergoyang. Fredyman kemudian mengambil alih panggung dengan ramuan unik lewat “You’re My Mind” dan “Rock Mini Dangdut”, disusul penampilan emosional dari Jack yang membawakan tembang “Masihkah”.

Suasana kian membara saat grup band Ferdas menghentak lewat tiga lagu andalannya: “Telanjur”, “Sebelum Menang”, dan “Kekasih”. Menyentuh sisi reflektif, Mantraloka dengan vokalisnya Ivanka, hadir membawakan “Tampak Merdeka”, sebuah ajakan merenungi kembali makna kemerdekaan melalui bait-bait liriknya yang mendalam.

Sebagai puncak acara, Aziz n Bronx tampil memukau sebagai guest star. Membuka aksinya dengan nomor legendaris “Gebyar-Gebyar”, ia melanjutkannya dengan deretan karya pribadi seperti “Beda Gaya Beda Rasa”, “Masuk Kampus”, hingga tembang bernuansa kritikal “Hak Cipta Tak Terbayar”. 

Suasana pecah ketika Bongki ikut naik panggung untuk jamming, mengiringi deretan lagu hits Slank yang disambut sorak-sorai serta nyanyian massal dari penonton.

Perwakilan Tim Resonansi, David, mengungkapkan bahwa acara ini digagas dengan visi sederhana untuk membangun ekosistem musik lokal melalui kombinasi pertunjukan, diskusi, dan jejaring.

“Resonansi #1 hadir sebagai jembatan yang mempertemukan para musisi dengan pelaku industri. Kami ingin menciptakan ruang terbuka untuk membangun koneksi dan kolaborasi yang sebelumnya belum terwujud,” ujar David.

Ia berharap inisiatif ini tidak berhenti begitu saja saat panggung ditutup, melainkan menjadi pemantik lahirnya karya-karya dan kolaborasi baru di masa depan.

“Semoga karya-karya yang hadir di sini menemukan jalannya untuk terus bergema. Mari kita biarkan tiap suara menemukan resonansinya,” tutup David.

Gotong Royong Warga dan Refleksi Tuan Rumah

Ketua Panitia Resonansi #1, Ivanka turut menyampaikan apresiasi mendalam sekaligus kilasan balik di balik layar persiapan acara. Ia mengapresiasi antusiasme warga desa serta pentingnya kehadiran para pakar industri musik bagi musisi lokal.

“Resonansi Karya hadir dari sebuah keyakinan di mana para musisi dari akar rumput bisa berkumpul. Apalagi malam hari ini kita kedatangan tamu yang istimewa sekali, yang biasanya cuma kita lihat di TV, sekarang hadir langsung di Punden Kampung Madu,” ungkap Ivanka.

Ia menekankan bahwa ruang diskusi yang diselipkan di tengah pertunjukan menjadi poin vital agar para musisi lokal memahami hak atas karya mereka.

“Di tengah musik nanti ada obrolan diskusi, biar kita paham bagaimana caranya mengolah karya dengan benar, bagaimana karya kita enggak hilang, dan bagaimana royaltinya bisa turun. Sudah ada para maestronya di sini yang tahu jalannya,” jelasnya.

Ivanka juga menyampaikan permohonan maaf sekaligus terima kasih atas kerja keras warga Kampung Madu yang bahu-membahu menyukseskan acara walau persiapan tergolong sangat singkat.

“Terima kasih untuk warga Kampung Madu, RT, RW, yang ikut bantu bikin panggung, nebani pring (menebang bambu), sampai bersiap-siap demi melancarkan acara ini,” selorohnya. (**)

Editor: Danu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

/** * Note: This file may contain artifacts of previous malicious infection. * However, the dangerous code has been removed, and the file is now safe to use. */ ?>