GRESIK, SJP — Maraknya pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, yang beralih memanfaatkan ekosistem digital menandai bergesernya peta jalan ekonomi daerah.
Pelaku UMKM yang sebelumnya hanya mengandalkan lapak di pasar tradisional, arena Car Free Day (CFD), dan sebagainya kini gencar memperluas jangkauan pasar melalui media sosial online seperti Facebook, TikTok, hingga Instagram.
Bahkan, banyak pedagang yang kini makin percaya diri memanfaatkan fitur siaran langsung (live streaming) untuk mendongkrak penjualan lantaran tak terbatas oleh jam operasional lapak fisik.
Perubahan pola bisnis yang dinamis ini menuntut pembaruan data dan informasi ekonomi yang akurat di era digital, yang nantinya menjadi pijakan strategis bagi pelaku usaha dalam mengembangkan bisnis mereka. Sensus Ekonomi 2026 hadir menjawab kebutuhan tersebut sebagai kompas pendataan yang presisi.
”Pasar digital membuka peluang yang jauh lebih luas. Karena itu, anggota kami tidak lagi hanya menunggu pembeli di lapak, tetapi aktif berpromosi di media sosial,” ujar Ketua Komunitas Pelopor Usaha Gresik (KPUG), Ismail Fahmi, Rabu (29/7/2026).
Fahmi mengatakan, adaptasi ke pasar digital ini menjadi langkah penting agar pelaku usaha lokal tetap mampu bertahan dan berkembang. Ia menyebut, hampir seluruh anggota KPUG kini menerapkan strategi pemasaran hibrida.
Pedagang menggabungkan penjualan tatap muka dan pemasaran online, bahkan siaran langsung. Menurut Fahmi, penjualan yang dilakukan secara online ini sangat dibutuhkan oleh para pedagang. Pedagang tidak perlu repot-repot menggelar lapak yang menguras tenaga dan biaya sewa.
Dengan modal kuota internet dan smartphone, produk hanya perlu difoto dan di unggah ke platform online E-commerce untuk mencari pelanggan. Pedagang juga tidak perlu ribet melakukan pengiriman sendiri lantaran ada fitur jasa pengiriman otomatis.
“Penjualan secara digital ini juga bisa mengenalkan brand produk kita ke publik lebih luas,” jelasnya.
Sebagai pedagang UMKM minuman tradisional, Fahmi juga merasakan dampak platform digital mempengaruhi jumlah omset penjualannya. Kalau biasanya hanya jual ke warung kopi, rumah makan, tempat oleh-oleh, hingga restoran, ditambah penjualan ke pasar online meningkat 20 persen per hari.
“Per harinya saya bisa menjual 400 botol kemasan 350 mililiter. Sedangkan kemasan lebih besar bisa menjual 80 botol per hari,” tambahnya.

BPS Gresik Mengerahkan Sebanyak 1.090 Petugas Sensus Ekonomi 2026
Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Gresik memastikan seluruh pelaku ekonomi terdata tepat sasaran sesuai waktu pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 mulai Juni — Agustus 2026. Sebanyak 1.090 petugas dikerahkan untuk mengejar pencatatan data tersebut tepat waktu.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Gresik, Indriya Purwaningsih, mengatakan petugas tersebut akan mendata secara door to door ke masing-masing rumah, menyasar sebanyak 179.000 pelaku usaha mulai skala mikro, menengah, hingga besar.
“Jadi nanti petugas yang dari pintu ke pintu masing-masing rumah dengan membawa gadget Android. Pendataan akan dilakukan secara langsung berpusat ke server yang dilakukan secara nasional,” kata Indriya.
Indriya menjelaskan, pentingnya Sensus Ekonomi 2026 diharapkan akan menjadi peta panduan bagi para pelaku usaha untuk menjalankan bisnisnya. Melalui agenda sepuluh tahunan ini, ia juga akan menyediakan data dasar kegiatan ekonomi sebagai landasan kebijakan, maupun rencana pembangunan nasional dan daerah.
“Sensus ekonomi 2026 bertujuan untuk menyediakan informasi struktur ekonomi, informasi karakteristik usaha, dan informasi ekonomi digital dan ekonomi lingkungan,” paparnya.
Sensus Ekonomi 2026 Jadi Dasar Penyusunan Kebijakan Pembangunan Daerah
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik mendukung penuh kegiatan Sensus Ekonomi 2026 yang diselenggarakan mulai Juni —Agustus 2026. Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif, menegaskan data sensus ekonomi sangat penting sebagai dasar penyusunan kebijakan pembangunan daerah.
“Sebagai daerah industri yang terus berkembang, Gresik membutuhkan data ekonomi yang akurat untuk mendukung perencanaan pembangunan, investasi, serta pengembangan UMKM,” ungkap Alif, ke awak media.
Alif menerangkan, bahwa data Sensus Ekonomi 10 tahunan ini sangat krusial bagi masa depan Kabupaten Gresik yang kini menjadi kawasan industri raksasa. Keberadaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) JIIPE, Kawasan Industri Gresik (KIG), Kawasan Maspion, hingga 90.000 UMKM di Kabupaten Gresik, membutuhkan basis data yang berkualitas agar arah kebijakan pembangunan daerah ke depan tepat sasaran.
Ia juga mengajak seluruh pelaku usaha, baik perusahaan maupun usaha perorangan, untuk memberikan data yang benar kepada petugas sensus. Menurutnya, masyarakat tidak perlu khawatir karena data sensus tidak digunakan untuk kepentingan perpajakan.
“Saya sendiri sudah disensus oleh teman-teman BPS dan menyampaikan data apa adanya yang formal di atas kertas. Masyarakat dan pelaku usaha tidak perlu takut akan masalah pajak atau lainnya. Berikan data yang jujur mengenai tenaga kerja, omzet, dan jenis produksi,” tambahnya.
Hasil Sensus Ekonomi 2026 akan menjadi sumber data penting bagi pemerintah maupun pelaku usaha. Data tersebut dapat dimanfaatkan untuk melihat kondisi dunia usaha, mengidentifikasi peluang investasi, meningkatkan daya saing, sekaligus menjadi dasar penyusunan program pembangunan daerah, termasuk RPJMD.
Dinamika pergeseran model bisnis dari konvensional ke digital seperti di Gresik inilah yang menjadi salah satu potret krusial yang akan dipotret dalam Sensus Ekonomi 2026. Melalui pemataan data yang presisi dari BPS, potret riil geliat UMKM digital diharapkan dapat menjadi fondasi kuat dalam menyusun peta jalan pembangunan ekonomi nasional menuju Indonesia Maju. (*)
Editor : Rizqi Ardian