Tiga Pendaki Gunung Krincing Bondowoso Minta Maaf, Akui Lakukan Pendakian Ilegal

BONDOWOSO, SJP – Tiga pendaki yang sebelumnya tersesat di Gunung Krincing, Desa Kabuaran, Kecamatan Grujugan, Kabupaten Bondowoso, menyampaikan permohonan maaf setelah menyadari pendakian yang mereka lakukan merupakan tindakan ilegal.

Ketiganya, Steven Juventino N (20), Esa Yuan Bintang Aidil F (22), dan I Gusti Ngurahrai Adi Saputra (22), sebelumnya ditemukan selamat oleh tim SAR gabungan setelah dilaporkan tersesat dan kehabisan logistik.

Dalam pernyataan yang disampaikan setelah proses evakuasi, ketiga pendaki mengakui kesalahan karena melakukan pendakian tanpa izin ke kawasan Gunung Krincing yang disebut berada di zona inti kawasan konservasi.

“Saya ingin menyampaikan permohonan maaf karena saya melakukan tindakan pendakian ilegal ke Gunung Krincing, di mana daerah tersebut daerah BKSDA di zona inti. Itu adalah keputusan yang salah,” demikian pernyataan Steven Juventino, warga asal Magelang, di Puskesmas Grujugan, Rabu (19/8/2026) malam.

Mereka juga menyadari tindakan tersebut tidak hanya berpotensi melanggar aturan, tetapi juga menimbulkan risiko bagi keselamatan diri sendiri serta menyusahkan tim SAR yang harus melakukan pencarian dan evakuasi.

“Saya sadar tindakan saya tidak hanya melanggar hukum, menyusahkan tim SAR, tapi juga membahayakan. Saya tidak punya alasan untuk membenarkan itu,” lanjut Steven.

Sebelumnya, ketiga pendaki dilaporkan tersesat setelah mendaki Gunung Krincing melalui jalur Kabuaran pada Senin (17/8/2026) sekitar pukul 22.00 WIB. Mereka kemudian mengalami kendala hingga kehabisan logistik.

Laporan mengenai keberadaan mereka diterima BPBD Bondowoso pada Rabu (19/8/2026) pagi. Tim SAR gabungan kemudian melakukan pencarian dengan membagi personel ke dalam dua Search and Rescue Unit (SRU).

Setelah beberapa jam melakukan penyisiran di tengah kondisi kabut tebal, ketiganya berhasil ditemukan sekitar pukul 18.30 WIB dalam keadaan selamat. Mereka kemudian dievakuasi ke posko dan dibawa ke Puskesmas Grujugan untuk pemeriksaan, sekitar pukul 23.00 WIB.

Penyesalan juga disampaikan oleh Esa Yuan Bintang Aidil,  dan rekan-rekannya. Bahkan, ketiga pendaki menyampaikan penyesalan atas tindakan tersebut dan menyatakan kesediaan bertanggung jawab.

“Saya menyesal dan bertanggung jawab penuh. Saya berjanji akan mematuhi semua aturan, mengurus izin dengan benar, dan ingin ikut mengedukasi teman-teman lain agar tidak melakukan hal yang sama,” ungkap warga Botolinggo Bondowoso ini.

Mereka bertiga juga menyampaikan permohonan maaf kepada pihak pengelola kawasan, masyarakat sekitar, serta seluruh unsur yang terlibat dalam proses pencarian dan evakuasi.

“Sekali lagi saya mohon maaf kepada pengelola, masyarakat sekitar, dan semua pihak yang terlibat. Terima kasih,” ucap I Gusti Ngurahrai Adi Saputra, pendaki asal Badung, Bali.

Sementara, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bondowoso, Kristianto Putro Prasojo, menyampaikan pesan penting kepada masyarakat.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pendakian ke kawasan yang memiliki pembatasan akses tidak hanya berisiko bagi pendaki, tetapi juga dapat memicu pengerahan sumber daya dan personel untuk operasi penyelamatan.

“Pendaki diimbau memastikan status kawasan, jalur yang diperbolehkan, serta perizinan sebelum melakukan pendakian,” pesannya. (*)

Editor : Rizqi Ardian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

/** * Note: This file may contain artifacts of previous malicious infection. * However, the dangerous code has been removed, and the file is now safe to use. */ ?>