JEMBER, SJP – Sengatan matahari tak menyurutkan langkah ribuan warga dari berbagai daerah untuk berbondong-bondong memadati bekas peninggalan era benteng pertahanan Jepang di Desa Cakru, Kecamatan Kencong, Jember.
Di arena situs perlindungan bersejarah tersebut, suasana bergemuruh. Teriakan riuh penonton pecah setiap kali dua pria berhadapan dengan sebatang rotan di tangan.
Suasana riuh itu menjadi pemandangan utama dalam gelaran Festival Ojung yang dikemas oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Cakru. Selain untuk menyemarakkan peringatan Kemerdekaan Indonesia, ajang ini digelar sebagai wadah adu ketangkasan bertaraf antarkabupaten.
Ratusan pendekar dari Jember dan Lumajang turun ke gelanggang. Dengan gerak reflek yang presisi, para peserta saling beradu kepiawaian dalam mengayunkan serta menangkis sabetan ojung, yakni: cambuk yang terbuat dari jalinan kayu rotan.
Setiap pemain bergantian mencuri celah untuk melayangkan pukulan sah ke arah tubuh lawan di bawah pengawasan ketat panitia.
Secara historis, kesenian ekstrem ini dikenal masyarakat luas sebagai ritual sakral untuk memanggil hujan saat musim kemarau panjang menerpa. Namun di Desa Cakru, tradisi ini terus dirawat dan ditransformasikan menjadi agenda tahunan yang bernilai budaya sekaligus ekonomi.
“Kegiatan ini diikuti oleh ratusan peserta dari dua kabupaten. Ini agenda tahunan, dan masyarakat kebanyakan tahunya kegiatan ini untuk meminta hujan pada saat kekeringan dan hal ini digelar. Namun, di sini kegiatan selalu digelar setiap tahun dan jadi agenda rutin,” kata Nuri Rafsan Sani , ketua panitia, Minggu,(30/8/2026) di sela sela kegiatan.
Di tengah pertarungan yang mendebarkan, sorak-sorai penonton tak henti-hentinya bergema. Bagi warga yang hadir, Festival Ojung bukan sekadar pertunjukan ketangkasan fisik, melainkan pesta rakyat yang menghidupkan ruang-ruang publik desa dan menggerakkan roda ekonomi pengusaha kecil di sekitar lokasi.
“Acara ini cukup luar biasa, karena selain untuk pengenalan wisata heritage di desa kami juga untuk meningkatkan pendapatan UMKM,” kata Ferlita, pengunjung dari kabupaten Lumajang.
Melalui pecutan rotan para pendekar, Desa Cakru tak hanya berhasil melestarikan warisan leluhur (nguri-nguri budaya), tetapi juga meniupkan napas baru pada potensi wisata heritage serta denyut UMKM lokal. (*)
Editor: Danu