KEDIRI, SJP – Buku ‘Islam ala Prabowo’ mendatangkan kontroversi. Sejumlah ulama ternama merasa dicatut dalam buku tersebut. Salah satunya adalah pengasuh Pondok Pesantren Al Falah, KH Abdurrahman Kautsar (Gus Kautsar), yang mempertanyakan etika dan transparansi tim pembuat buku.
Dalam pengajian di teras gubuk Pondok Al Falah di Ploso, Mojo, Kabupaten Kediri, Rabu (9/9/2026) malam, Gus Kautsar menyatakan bahwa banyak pihak yang menghubunginya berkaitan dengan tulisannya di buku ˜Islam ala Prabowo’.
Mengaku sempat lupa, Gus Kautsar akhirnya ingat bagaimana awal mula tulisan itu muncul. Menurutnya, pihak yang berhubungan dengan buku tersebut sempat datang bersama keluarganya di kediaman Gus Kautsar yang kala itu sedang banyak tamu, ketika pada awall 2024.
“Jadi, saya agak lupa kapan wawancara ini. Dan mohon maaf, kami tidak pernah tahu kalau ini menjadi satu buku,” ujarnya.
Gus Kautsar mengaku sudah berkomunikasi dengan penulisnya. Ia menyampaikan pentingnya etika sebelum menerbitkan buku yang mencantumkan nama seseorang. Hal ini bukan dalam konteks keberatan atau tidak, melainkan bentuk transparansi.
“Tapi masalah transparansi. Kenapa kalau nama kami dicantumkan di sana, sebelum diterbitkan kami tidak diberitahu?” kata Gus Kautsar.
Selain itu, Gus Kautsar juga mempertanyakan diksi judul yang menyebutkan ‘Islam ala Prabowo’. Menurutnya, jika tujuannya menjelaskan hubungan Prabowo dengan Islam atau pesantren, judul yang digunakan tidak sepatutnya seperti itu.
“Sebab dalam kapasitas guru kami saja, kami tidak pernah mengenal istilah Islam ala Mbah Yai Djazuli, misalnya. Islam ala Mbah Yai Huda, nggak ada tuh. Atau yang kamu kenal, Islam ala Mbah Maimun, nggak ada,” paparnya.
Dalam buku ‘Islam ala Prabowoâ’ ini tercantum tiga penyusun: Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush’ab Muqoddas, serta diterbitkan oleh Atmosphere Publishing House. Buku setebal 346 halaman ini diterbitkan pertama kali pada April 2025. Dalam buku juga disebut, penulisan diinisiasi oleh Ketua MPR Ahmad Muzani dan Ketua MUI Anwar Iskandar.
Tujuan penerbitan disampaikan pada halaman awal. Menurut tim penyusun, buku ini mencoba memasuki wilayah yang relatif jarang dibahas secara sistematis: relasi antara keislaman, spiritualitas, karakter pribadi, kepemimpinan, dan kiprah politik Prabowo Subianto. Buku ini tidak sekadar ditempatkan sebagai biografi politik, tetapi berupaya membaca sosok Prabowo melalui perspektif nilai-nilai Islam.
Buku tersebut kemudian diluncurkan secara resmi dalam rangkaian Rakornas Baznas 2025 di Jakarta pada 26 Agustus 2025. Nama Gus Kautsar dicantumkan sebagai penulis artikel berjudul “Dukungan Pesantren untuk Prabowo Subianto” pada halaman 318.
Pencatutan ini turut diprotes oleh istri Gus Kautsar, Jazilah Annahdliyah (Ning Jazil).
“Kok bisa ada nama suami saya?? Padahal Gus Kautsar tidak pernah menulis itu. Kok bisa penulis tidak izin dulu kalau mau menyertakan nama suami saya di buku itu???!!” tulisnya dalam akun Instagram pribadi, @zil_hb.
Selain Gus Kautsar, sejumlah tokoh yang dicatut namanya dalam buku tersebut antara lain; mantan Gubernur NTB TGB Muhammad Zainul Majdi, Gus Kautsar, Prof. KH. Asep Saifuddin Chalim, hingga KH Said Aqil Siradj yang menegaskan tidak pernah mengirimkan naskah atau tulisan untuk buku tersebut. (**)
Sumber: Akun Youtube Teras Gubuk
Editor: Danu