GRESIK, SJP — Ternyata, sampah bukan lagi sekadar barang buangan. Di tangan-tangan kreatif, limbah justru disulap menjadi produk bernilai ekonomi. Sosok di balik gerakan ini adalah Siti Fitriah, pegiat lingkungan asal Gresik, Jawa Timur, yang mendirikan bank sampah demi menekan volume sampah di masyarakat.
Tak disadari gerakan itu menciptakan ekonomi lingkungan yang tak hanya menjaga kelestarian bumi, tetapi juga memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan warga sekitar.
Bank sampah yang berdiri sejak 15 tahun lalu itu konsisten mengumpulkan sampah dari rumah tangga, lembaga sekolah, hingga kawasan industri. Sampah yang dikumpulkan pun beragam mulai sampah rumah tangga, kardus, minyak jelantah, hingga berbagai macam plastik bekas.
Berawal dari 3 unit pionir, Bank Sampah Induk Gemes yang diinisiasi Fitriah telah berkembang menjadi 25 unit bank sampah yang menyebar di berbagai wilayah Kecamatan di Kabupaten Gresik. Fitriah mengatakan, tenaga kerja yang terlibat dalam pengelolaan Bank Sampah miliknya mencapai ratusan warga.
“Di Bank Sampah Induk Gemes sendiri ada 5 tenaga kerja, belum lagi ada sebanyak 25 unit yang masing-masing memiliki sekitar 10 anggota,” kata Fitriah, Kamis (30/7/2026).
Bank Sampah Gemes mengangkut sampah menggunakan kendaraan roda tiga yang diterima hasil hibah pemerintah. Memulai tanpa modal, perjuangan Fitriah kini menuai hasil dengan memiliki perputaran omset penjualan hasil pengelolaan sampah mencapai Rp10 juta per bulan.
Ia menyebut, sampah yang berhasil dikelola Bank Sampah Gemes ini mencapai 3 ton per bulan. Memiliki nasabah hampir 2.000 rumah ditambah sejumlah lembaga sekolah, bank sampah milik Fitriah mampu mengurangi sampah khususnya jenis organik lebih dari 1 ton per bulan.
“Belum lagi minyak jelantah yang memiliki muatan berat. Uang hasil penjualan kembali ke mereka lagi. Kita hanya mengambil selisih keuntungan sedikit berkisar Rp200 sampai Rp400 per item. Setidaknya masyarakat sudah merubah pemikiran untuk memilah sampah,” jelasnya.
Menurut Fitriah, gerakan bank sampah yang didirikan tersebut berdampak secara langsung ke lingkungan hingga perekonomian warga. Pola pikir masyarakat yang sebelumnya tidak suka berkebun, sekarang mereka ikut mengelola sampah untuk dijadikan media tanam mendukung ketahanan pangan mandiri di rumah.
“Alhamdulillah manfaatnya banyak sirkular ekonomi. Dampaknya timbulan sampah semakin berkurang, pemikiran masyarakat berubah untuk meningkatkan ketahanan pangan, dan ekonomi,” paparnya.
DLH Gresik Mencatat 317 Bank Sampah Aktif
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Gresik mencatat ada sebanyak 317 Bank Sampah aktif yang telah disahkan oleh Kelurahan atau Pemerintah Desa setempat, terdiri dari 305 Bank Sampah Unit (BSU) dan 12 Bank Sampah Induk (BSI).
Kepala DLH Gresik Sri Subaidah, mengatakan bank sampah berperan penting dalam pengurangan sampah di masyarakat, serta mendorong terwujudnya ekonomi lingkungan.
“Kami ingin masyarakat tidak hanya membuang sampah, tapi juga melihat nilai ekonomi di baliknya. Dari sampah, bisa lahir berkah,” ungkap dia.
Sri menyampaikan, bank sampah yang ada di Kabupaten Gresik efektif mengurangi sampah yang masuk ke Tempat Pengolahan Akhir (TPA) sampah yang dikelola Pemerintah daerah di Kelurahan Ngipik. Ia menyebut, sampah yang masuk ke TPA Ngipik mencapai 200 ton per hari.
Secara kajian pihak akademisi, TPA Ngipik seluas 7 hektare ini sudah diperkirakan overload sejak tahun 2018. Beroperasi lebih dari 20 tahun, sampah yang berada diTPA Ngipik itu sudah menggunung.
Pemkab Gresik sempat menetapkan TPA Ngipik sudah overload sejak tahun 2019. Lanjut Sri, mengaku bersyukur inovasi seperti bank sampah ini turut membantu banyak mengurangi pertambahan volume sampah setiap tahunnya di TPA tersebut.
“Semoga bank sampah seperti ini akan terus bertambah sehingga kesadaran masyarakat memilah sampah dari rumah meningkat. Serta mengurangi timbunan sampah di TPA,” jelasnya.
Ekonomi Lingkungan Berpotensi Jadi Sektor Usaha Masa Depan
Potret bank sampah yang ada di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, ini mengungkap bahwa ekonomi lingkungan tidak bisa dipandang sebelah mata. Ekonomi lingkungan merupakan sektor usaha terhadap keberlanjutan alam dan transisi ekonomi hijau. Sektor usaha ekonomi lingkungan tersebut yang kini menjadi fokus pendataan Sensus Ekonomi 2026 oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
“Sensus ekonomi 2026 bertujuan untuk menyediakan informasi struktur ekonomi, informasi karakteristik usaha, dan informasi ekonomi digital dan ekonomi lingkungan,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Gresik, Indriya Purwaningsih.
Indriya mengatakan, Sensus Ekonomi 2026 ini sangat penting untuk navigasi usaha masyarakat untuk menjalankan bisnisnya. Sensus Ekonomi dilakukan sepuluh tahun sekali. Hasilnya, Sensus Ekonomi tersebut akan menyediakan data dasar kegiatan ekonomi sebagai landasan kebijakan, maupun rencana pembangunan nasional dan daerah.
BPS Gresik memastikan seluruh pelaku ekonomi terdata tepat sasaran sesuai waktu pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 mulai Juni — Agustus 2026. Sebanyak 1.090 petugas dikerahkan untuk mengejar pencatatan data tersebut tepat waktu.
Petugas tersebut akan mendata secara door to door ke masing-masing rumah, menyasar sebanyak 179.000 pelaku usaha mulai skala mikro, menengah, hingga besar.
“Jadi nanti petugas yang dari pintu ke pintu masing-masing rumah dengan membawa gadget Android. Pendataan akan dilakukan secara langsung berpusat ke server yang dilakukan secara nasional,” pungkas Indriya. (*)
Editor : Rizqi Ardian