Empat Siswa Lotus Art Courses Masuk 896 Karya Terbaik dari 7.400 Karya Kompetisi UNESCO Prancis

SURABAYA, SJP — Anak-anak Indonesia kembali mengharumkan nama bangsa di kancah seni dunia. Empat siswa Lotus Art Courses (LAC) berhasil masuk dalam 896 karya terbaik dari sekitar 7.400 karya yang bersaing dalam 33rd International Visual Arts Competition – Graines d’Artistes du Monde Entier 2026 di Prancis, kompetisi seni visual yang digelar dalam lingkup IMAJ-Centre for UNESCO.

Capaian tersebut disampaikan dalam awarding ceremony yang digelar LAC di Institut Français d’Indonésie (IFI) Surabaya, Jumat (4/9/2026). Kompetisi tahun ini mengusung tema The Beauty of Life: Fauna and Flora. Terrestrial, Aerial, Underground, Aquatic and Underwater Life.

Empat siswa LAC yang berhasil masuk kategori Sélectionnés Non Primés atau kelompok 596 karya terpilih tingkat ketiga tersebut yakni Kimberly Sun, Joline Abigail Iskandar, Ryu Marcello Sie, dan Aisyah Azkadina A.A.

Founder Lotus Art Courses, I Putu Mahendra, mengatakan capaian tersebut menjadi bagian dari keikutsertaan siswa LAC dalam ajang seni internasional yang telah mereka ikuti secara rutin. Selain penghargaan bagi empat siswa yang karyanya terpilih, momen ini juga ditujukan untuk mengapresiasi seluruh siswa LAC yang turut berpartisipasi.

“Hari ini kita semua kumpul di sini ada awarding ceremony dari lomba yang diadakan di Perancis oleh UNESCO. Ini adalah kegiatan rutin yang sudah berjalan dari tahun 2023 untuk kolaborasi juga antara Lotus Art Courses bersama IFI Surabaya sebagai penyedia lokasi Awarding,” ujar Putu saat ditemui usai Awarding Ceremony.

Tahun ini, LAC mengirimkan karya dari 80 siswa dari usia 3 hingga 20 tahun. Peserta berasal dari jenjang pendidikan mulai TK hingga SMA, sementara empat siswa berhasil memperoleh penghargaan dalam kategori Sélectionnés Non Primés atau penghargaan tingkat ketiga.

Hal menarik juga diungkapkan oleh Putu, ia mengatakan bahwa keikutsertaan siswa Lotus Art Courses dalam kompetisi internasional selalu mempertahankan kebiasaan mengirimkan karya fisik ke ajang yang diikuti, termasuk kompetisi di luar negeri.

“Untuk dikirimnya tuh kita selalu kirim karya fisik ke ajang lombanya, jadi sudah jadi budaya Lotus Art Courses jika mengikuti lomba di manapun, meski kita tidak berangkat kita tetap kirim karya fisik,” tuturnya.

Menurut dia, pengalaman mengikuti kompetisi internasional di Prancis memiliki nilai tersendiri bagi siswa karena penyelenggara memberikan ruang apresiasi yang luas terhadap karya peserta.

“Dari Perancis ini setiap tahunnya selalu ada tema yang berbeda. Dan spesialnya Perancis ini mereka selalu mengadakan seremonial yang secara menyeluruh, jadi memang dirayakan satu komunitas gitu dan karyanya juga dihasilkan dengan baik dan dipamerkan dan akan disimpan sama mereka di museum,” katanya.

Ia berharap penghargaan tersebut tidak berhenti sebagai pencapaian di atas kertas, tetapi menjadi pemicu bagi siswa untuk terus mengembangkan kemampuan seni mereka.

“Semoga dengan kegiatan ini anak-anak yang mendapatkan apresiasi semakin termotivasi berkarya semakin senang karena karyanya mereka juga dinilai dengan baik oleh orang-orang di luar sana dengan pengetahuan seni yang luar biasa,” tukas Putu.

Sementara itu, Direktur IFI Vincent Padaré melihat kerja sama dengan LAC masih dapat dikembangkan lebih jauh. Selain mengapresiasi karya anak-anak Lotus Art Courses, IFI juga membuka peluang untuk menjadikan karya anak-anak tersebut sebagai bagian dari sebuah pameran seni.

“Ini adalah momen yang sangat bagus dan harus dijaga dan dikembangkan, lain kali kami juga ingin menggelar seperti sebuah pameran dan menunjukkan pekerjaan seni dari anak-anak seperti ini, jadi kita juga ingin menjadi wadah pameran karya mereka,” ungkap Vincent.

Vincent menilai ruang bagi anak-anak untuk memperkenalkan karya sejak dini juga dapat menjadi bagian dari hubungan budaya antara Indonesia dan Prancis. Menurutnya, kerja sama kedua negara selama ini telah berkembang di berbagai sektor industri kreatif. Terlebih, IFI sendiri merupakan pusat kebudayaan dan lembaga diplomasi resmi Prancis di Surabaya yang berada di bawah Kedutaan Besar Prancis di Indonesia.

“Kita memiliki perhubungan yang kuat dengan cinema, animasi, juga video game. Dan saya yakin di sini kita bisa mempromosikan artis masa depan Indonesia. Semua orang mulai kecil dan kita tidak tahu sampai berapa tinggi mereka akan berkembang,” tandas Vincent.

Salah satu penerima penghargaan, Aisyah Azkadina A.A, menjadi contoh bagaimana pengalaman mengikuti kompetisi internasional dapat berjalan seiring dengan pengembangan minat anak.

Siswi kelas IV SD berusia 10 tahun asal Mojokerto tersebut mengikutsertakan karya bergambar kukang. Dalam karyanya, Aisyah menggambarkan seekor kukang dengan sejumlah wajah manusia di sekelilingnya. Ia mengaku memang menyukai hewan tersebut.

“Namaku Aisyah, kelas 4, sekolah di SDN Modosari. Saya di lomba ini gambar hewan kukang, digambar itu ada banyak wajah orang di sekitar kukangnya. Memang saya suka kukang,” ucapnya dengan lugu.

Ibunda Aisyah, Lailil, mengatakan pencapaian tahun ini melanjutkan pengalaman putrinya dalam kompetisi yang sama. Pada 2025, Aisyah berhasil masuk kategori tingkat kedua atau 200 karya terbaik.

Meski tahun ini berada pada kategori tingkat ketiga, keluarga tetap melihat pencapaian tersebut sebagai pengalaman penting karena Aisyah masih mampu masuk dalam kelompok karya terpilih dari ribuan peserta.

“Jadi untuk yang tahun ini memang agak mengalami turun tingkat jadi tingkat ketiga. Tapi setidaknya masih bersyukur ya. Jadi dari ribuan, bahkan dari 7400 karya, 84 negara, masih masuk dalam kategori finalnya,” ungkap sang ibunda.

Lailil mengatakan dukungan keluarga diberikan karena seni menjadi salah satu bidang yang sejak kecil diminati Aisyah. Menurutnya, orang tua perlu melihat potensi anak secara lebih luas dan tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik.

“Otomatis ini kan salah satu jalan ya untuk mengembangkan potensi anaknya. Karena pada dasarnya kita sebagai orang tua kan harus paham dulu potensi anak kita itu dimana. Tidak hanya fokus ke akademiknya,” tuturnya.

Selama mengikuti LAC, kemampuan Aisyah juga berkembang ke berbagai bentuk seni. Tidak hanya menggambar dan melukis, ia mulai mengeksplorasi patung, kerajinan, hingga karya yang diaplikasikan pada busana.

Lailil berharap berbagai pencapaian tersebut dapat menjadi bekal bagi Aisyah untuk terus mengembangkan potensinya pada jenjang pendidikan berikutnya.

“Pastinya harapan orang tua tidak berhenti di kompetisi ini saja. Pasti setelah ada suatu pencapaian, ingin pencapaian yang lebih lagi. Otomatis terus menggali potensi anaknya agar apa yang dicapai bisa lebih berkembang lagi,” pungkasnya.

Capaian empat siswa LAC tersebut sekaligus menunjukkan bahwa karya anak-anak Indonesia dapat menembus kompetisi seni internasional sejak usia dini. Bagi LAC maupun IFI, penghargaan tersebut diharapkan menjadi awal untuk menghadirkan lebih banyak ruang bagi karya anak-anak Indonesia agar dikenal tidak hanya melalui kompetisi, tetapi juga melalui pameran dan pertukaran budaya lintas negara. (***)

Editor: Danu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

/** * Note: This file may contain artifacts of previous malicious infection. * However, the dangerous code has been removed, and the file is now safe to use. */ ?>