Gus Kikin Janji Benahi Ekonomi Warga Nahdliyin Jika Terpilih jadi Ketum PBNU

JOMBANG, SJP — Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, KH Abdul Hakim Mahfudz atau yang karib disapa Gus Kikin, mencuat sebagai salah satu kandidat kuat calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam Muktamar ke-35 NU. 

Cicit pendiri NU KH Hasyim Asy’ari ini menegaskan keberadaannya dalam bursa pencalonan merupakan aspirasi arus bawah.

Ia mengaku tidak mencalonkan diri secara pribadi, melainkan diusung resmi oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur.

“Saya sebetulnya bukan mencalonkan diri, saya dicalonkan oleh PWNU Jawa Timur dan mereka itu menyambut dengan baik,” ujar Gus Kikin saat dikonfirmasi wartawan, Sabtu (29/8/2026).

Gus Kikin mengungkapkan bahwa pencalonannya merupakan bentuk amanah dari para kiai dan pengurus wilayah. Tanpa persiapan khusus untuk kontestasi, ia memilih tetap menjalankan konsolidasi dan silaturahmi organisasi secara intensif seperti biasa.

Fokus Penguatan Ekonomi Berbasis Digital

Jika dipercaya memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut, Gus Kikin mengusung agenda utama penguatan ekonomi warga nahdliyin. 

Menurutnya, basis massa NU yang masif merupakan potensi pasar luar biasa yang harus dikelola secara profesional demi kesejahteraan umat.

“Ekonomi itu tidak lepas, semua ekonomi berbasis pasar. Pasarnya NU itu dengan jumlah warganya yang begitu besar, itu sebenarnya akan menjadi pasar ekonomi yang luar biasa kalau ditata,” tuturnya.

Ia menekankan pentingnya modernisasi dan adaptasi teknologi. Sektor ekonomi digital dinilai menjadi kunci strategis untuk membangun kemandirian finansial warga NU di berbagai daerah.

“Ekonomi digital ikut, tinggal caranya saja. Yang terang, warganya yang jumlahnya banyak ini kalau ditata ekonominya kan menjadi menarik,” tegas Gus Kikin.

Mengembalikan Asas Pertama NU

Di samping sektor ekonomi, Gus Kikin menaruh perhatian besar pada penguatan ideologi dan historis organisasi. Ia telah menemukan kembali dokumen asas pertama NU yang pernah disusun para pendiri organisasi, termasuk KH Hasyim Asy’ari. 

Dokumen bersejarah ini sempat terpinggirkan sejak NU bertransformasi menjadi partai politik pada 1952.

Naskah bersejarah tersebut kini telah dicetak ulang dalam bentuk buku. Gus Kikin mendorong agar PBNU periode mendatang kembali menjadikannya sebagai rujukan utama.

“Tiga tahun yang lalu itu kita temukan kembali dokumen itu dan sekarang sudah kita cetak, sudah jadi buku. Itu yang saya tawarkan, NU itu seyogyanya menggunakan rujukan-rujukan itu lagi supaya NU itu kembali seperti dulu awal digunakan,” ungkapnya.

Kriteria Ideal Rais Aam

Mengenai calon Rais Aam PBNU yang ideal untuk bersanding dengannya, Gus Kikin memilih tidak menyebut nama. Namun, ia menggarisbawahi kriteria ulama yang mumpuni secara keilmuan sekaligus konsisten dalam pengamalannya.

“Rais Aam kalau yang jaman dulu memang dari sisi keilmuannya yang mumpuni, kemudian memang yang terbaik itu namanya ulama itu adalah yang menjaga keilmuannya, jadi amalan-amalannya atau semua kegiatannya itu berbasis dari keilmuannya itu,” pungkasnya. (*) 

Editor: Syaiful Aries

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

/** * Note: This file may contain artifacts of previous malicious infection. * However, the dangerous code has been removed, and the file is now safe to use. */ ?>