SURABAYA, SJP — Lonjakan harga bahan pokok kembali memukul rantai usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Jawa Timur.
Dilema berat kini dirasakan para pelaku usaha kuliner di Surabaya. Mereka dihadapkan pada pilihan sulit, menaikkan harga jual dan berisiko kehilangan pembeli, atau mempertahankan harga meski harus merelakan keuntungan tergerus hingga separuhnya.
Kondisi tersebut salah satunya dialami oleh Lulut Pujianto, seorang pedagang soto ayam di Jalan Jemur Wonosari, Surabaya.
Lulut mengaku pendapatan usahanya merosot drastis akibat kenaikan simultan pada hampir seluruh komponen bahan baku, mulai dari beras, daging ayam, hingga bumbu dapur.
“Dampaknya ya keuntungannya menipis dan memengaruhi omzet. Hampir semua bahan naik. Ayam naik, beras naik, bumbu-bumbu juga naik,” ungkap dia saat ditemui pada Selasa (25/8/2026).
Lulut menyebutkan bahwa penurunan omzet usahanya mencapai sekitar 50%. Meski biaya produksi membengkak, ia enggan mengambil langkah drastis seperti memotong porsi piring saji atau menaikkan tarif per mangkuk soto.
“Kalau harga dinaikkan, tidak berani, pasti pelanggan tidak jadi beli. Mengurangi porsi nasi juga susah karena akan berpengaruh pada rasa atau nikmatnya makanan,” jelasnya.
Langkah bertahan yang ia ambil saat ini hanyalah pasrah menerima pemangkasan margin keuntungan demi menjaga keberlangsungan usaha dan loyalitas konsumen.
“Jadi ya saat ini harus terima keadaan meski harus mendapat untung tipis,” terang Lulut.
Ia sangat berharap ada respons cepat dari pemerintah untuk mengintervensi pasar dan memulihkan stabilitas harga komoditas pokok.
“Harapannya pemerintah peka terhadap kondisi ini agar masyarakat sejahtera. Harga-harga bisa kembali stabil agar tidak menyusahkan rakyat,” tandasnya.
Dampak lonjakan harga beras di tingkat pengecer memicu efek berantai yang signifikan. Mutia Balqis, pemilik toko kelontong di kawasan Jalan Jemur Wonosari, membeberkan bahwa kenaikan harga beras terjadi secara konsisten dan bertahap sejak awal tahun.
“Iya, harga beras naik di kisaran Rp 2.000 sampai Rp 3.000 untuk semua jenis beras, baik medium maupun premium. Harga beras berangsur naik sejak awal tahun hingga sekarang,” beber Mutia.
Bahkan menurut pengamatannya, peningkatan harga dalam satu bulan bisa terjadi hingga dua kali gelombang kenaikan.
Saat ini, harga beras jenis medium di Surabaya menembus angka Rp 13.000 hingga Rp 15.000 per kilogram, sementara beras premium merangkak naik ke kisaran Rp 15.000 hingga Rp 17.000 per kilogram.
Kondisi tersebut memaksa masyarakat memutar otak dalam mengatur anggaran dapur. Mutia mencatat adanya pergeseran strategi belanja pada sebagian besar konsumennya demi menghemat pengeluaran.
“Usually pembeli mencampur beras premium dengan medium. Tetapi ada juga yang biasanya beli beras premium turun ke medium,” pungkas Mutia. (**)
Sumber: Beritasatu.com
Editor: Syaiful Aries