SUARAJATIMPOST.COM – Amanah kepemimpinan tertinggi di tubuh Nahdlatul Ulama kembali bertumpu pada sosok KH Miftachul Akhyar. Ulama berkarisma asal Surabaya ini dipercaya menduduki posisi Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), melanjutkan khidmah kepemimpinannya dalam mengawal keumatan dan kebangsaan.
Di balik ketokohannya saat ini, perjalanan spiritual dan keilmuan KH Miftachul Akhyar ditempa melalui proses yang panjang, sarat dinamika, serta ditopang oleh tradisi keilmuan pesantren yang kuat.
Putra Kiai Pengasuh Rangkah yang Tumbuh dalam Tradisi Hormat Tamu
Dikutip dari nu.or.id, KH Miftachul Akhyar yang lahir di Surabaya pada tahun 1953 ini merupakan anak kesembilan dari 13 bersaudara. Dia tumbuh di lingkungan keluarga ulama di bawah asuhan sang ayah, KH Abdul Ghoni, pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah, Surabaya.
Syiar keikhlasan dan keteladanan sang ayah yang dikenal sangat memuliakan tamu menjadi pondasi awal pembentukan karakter Kiai Miftach sejak belia.
Pendidikan formalnya dimulai dari Sekolah Rakjat (SR) hingga kelas 5. Namun, jejak kehidupannya segera bergeser penuh ke dunia pesantren sejak usianya baru menginjak delapan tahun.
Lika-liku Perjalanan Nyantri dan Titik Balik Kesadaran
Genealogi keilmuan Kiai Miftach terbentang di berbagai pesantren terkemuka di Tanah Jawa. Awal perjalanan nyantrinya dimulai di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, selama kurang lebih tiga tahun. Perjalanan tersebut berlanjut ke Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan (1967-1969), di mana dia menyelesaikan jenjang pendidikan ibtidaiyah hingga memasuki tsanawiyah.
Sebagaimana dinamika pemuda pada umumnya, Kiai Miftach sempat mengalami fase “mutung” dan enggan melanjutkan belajar pada kurun 1970. Keputusan tersebut sempat mendatangkan sikap tegas dari sang ayah yang tidak menyapanya selama satu tahun.
Sikap dingin sang ayah serta kekhawatiran akan pergaulan kota Surabaya justru menjadi titik balik kesadarannya. Kiai Miftach memutuskan kembali menuntut ilmu dengan syarat memilih pesantren non-formal.
Atas arahan kakak iparnya, Kiai Miftach melanjutkan pengembaraan ilmu ke Pesantren Al-Ishlah Lasem, Jawa Tengah, di bawah asuhan Syekh Masduqi sejak 1971 hingga 1974.
Meski sempat tertunda ke Makkah karena kondisi kesehatan, dia berkesempatan menimba ilmu langsung dari ulama besar Makkah, Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani, saat menggelar daurah khusus di Malang pada rentang 1977- 1978 bersama belasan pemuda pilihan.
Mendirikan Pesantren Miftachus Sunnah dan Kiprah Organisasi
Kehendak kuat untuk mengabdi mulai terwujud saat Kiai Miftach memutuskan menetap di Kedung Tarukan No. 100, Surabaya. Melihat minimnya nilai-nilai religius di lingkungan sekitar, dia tergerak menginisiasi pengajian rutin hingga mendirikan Pondok Pesantren Miftachus Sunnah. Hingga kini, dia juga konsisten mengasuh pengajian mingguan membaca Kitab Al-Hikam karya Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari setiap selesai salat Jumat.
Dedikasinya di jam’iyyah Nahdlatul Ulama teruji secara berjenjang dari tingkat basis hingga pusat:
- Rais Syuriyah PCNU Surabaya: 2000- 2005
- Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur: 2007- 2015
- Wakil Rais ‘Aam PBNU: 2015-2018
- Penjabat (Pj) Rais ‘Aam PBNU: 2018- 2020
- Rais ‘Aam PBNU: Masa Khidmah 2021-2026
- Rais ‘Aam PBNU: Masa Khidmah 2026-2031
Kedalaman ilmu agama, keistiqamahan mengajar, serta pengalaman organisasi yang matang menjadikan KH Miftachul Akhyar sebagai pilar penguat sanad keilmuan dan arah perjuangan NU masa kini. (*)
sumber: nu.or.id
Editor: Danu