Tangis Siswa Warnai BIAS di MI At Taqwa, Ikhtiar Dinkes Bondowoso Lindungi Anak dari Campak Rubella

BONDOWOSO, SJP – Tangisan kecil sesekali pecah dari sudut ruang kelas MI At Taqwa Bondowoso, Kamis (6/8/2026). Beberapa siswa kelas 1 tampak menggenggam erat tangan guru mereka. Ada yang menutup wajah, ada pula yang memeluk teman sebangkunya saat petugas kesehatan mulai menyiapkan vaksin.

Bagi anak-anak, suntikan memang sering menjadi momok. Namun, di balik rasa takut itu tersimpan ikhtiar besar untuk melindungi mereka dari penyakit berbahaya melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).

Guru-guru tak hanya bertugas menjaga ketertiban, tetapi juga menjadi penenang bagi para siswa yang diliputi rasa cemas. Mereka membujuk, menggendong, hingga mengusap kepala anak-anak agar berani menjalani imunisasi.

Kepala MI At Taqwa Bondowoso, H. Mohammad Zakaria, mengatakan pelaksanaan BIAS bukan hal baru bagi sekolahnya. Selama bertahun-tahun, pihak sekolah rutin bekerja sama dengan Puskesmas Kota Kulon dalam berbagai program kesehatan bagi peserta didik.

“Anak-anak ini bukan hanya murid kami, tetapi juga kami anggap seperti anak sendiri. Jadi ketika ada yang menangis atau takut disuntik, tentu kami juga ikut merasa tidak tega. Tapi semua ini demi kesehatan mereka,” ujarnya.

MI At Taqwa yang memiliki sekitar 2.214 siswa dari kelas 1 hingga kelas 6, dengan 414 siswa kelas 1 sebagai sasaran imunisasi tahun ini, menjadi salah satu sekolah dengan jumlah peserta BIAS terbesar di Bondowoso.

Menurut Zakaria, sebelum pelaksanaan imunisasi, sekolah telah menyampaikan surat pemberitahuan kepada seluruh wali murid agar orang tua mengetahui jadwal sekaligus manfaat vaksin yang diberikan.

Ia berharap seluruh orang tua mendukung program pemerintah tersebut.

“Seharusnya kita bersyukur karena pemerintah memfasilitasi imunisasi secara gratis. Ini investasi kesehatan anak-anak kita. Mungkin hari ini mereka sehat, tetapi vaksin menjadi bekal agar ketika suatu saat ada ancaman penyakit, risikonya bisa jauh lebih kecil,” katanya.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Kota Kulon, drg. Ahmad Mansur, menjelaskan, vaksin yang diberikan dalam BIAS kali ini adalah vaksin Measles Rubella (MR) untuk mencegah penyakit campak dan rubella.

Ia menegaskan efek samping vaksin MR relatif ringan dan sangat jarang menimbulkan keluhan serius.

“Kalau ada reaksi biasanya hanya demam ringan beberapa hari setelah imunisasi. Itu pun tidak semua anak mengalaminya. Bila orang tua menemukan keluhan setelah imunisasi, kami menganjurkan segera datang ke fasilitas kesehatan terdekat agar bisa dievaluasi,” jelasnya.

Menurut Ahmad Mansur, tantangan terbesar dalam pelaksanaan BIAS bukan pada vaksinnya, melainkan keterbatasan tenaga kesehatan ketika harus melayani ratusan siswa dalam waktu bersamaan.

“Kalau sekolah besar seperti ini, kami harus menambah jumlah petugas. Biasanya tiga orang, tetapi di sini bisa enam sampai tujuh tenaga kesehatan agar seluruh sasaran dapat dilayani dalam satu hari,” ungkapnya.

Di sisi lain, Penanggung Jawab Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso, Titit Pramiasih, ST., M.Kes, menegaskan, BIAS merupakan program nasional yang menyasar seluruh siswa kelas 1, baik di sekolah negeri maupun madrasah.

Menurutnya, keberhasilan imunisasi tidak hanya melindungi anak yang divaksin, tetapi juga membentuk kekebalan kelompok (herd immunity) sehingga risiko penyebaran penyakit dapat ditekan.

“Kalau dari sepuluh anak hanya dua yang divaksin, peluang terjadinya wabah akan jauh lebih besar. Sebaliknya, jika sebagian besar sudah mendapatkan imunisasi, perlindungan akan terbentuk untuk seluruh kelompok,” ujarnya.

Titit mengakui masih ada sebagian kecil orang tua yang belum mengizinkan anaknya mengikuti imunisasi karena kurang memahami manfaat vaksin. Karena itu, edukasi kepada masyarakat terus dilakukan bersama pihak sekolah.

Ia juga mengingatkan bahwa campak bukan penyakit yang bisa dianggap sepele. Dalam kondisi tertentu, penyakit tersebut dapat menimbulkan komplikasi serius bahkan berujung kematian.

“Vaksin diberikan untuk mencegah penyakit-penyakit yang berbahaya. Campak memang terlihat biasa, tetapi ketika terjadi komplikasi bisa sangat fatal. Karena itu pemerintah terus berupaya memberikan perlindungan sejak anak masih usia sekolah,” katanya.

Di balik tangisan beberapa siswa pagi itu, para guru, tenaga kesehatan, dan orang tua sesungguhnya memiliki tujuan yang sama, yakni memastikan anak-anak tumbuh sehat dan terlindungi. Tangisan itu mungkin hanya berlangsung beberapa menit, tetapi manfaat imunisasi diharapkan menjadi bekal kesehatan yang menjaga mereka hingga dewasa. (*)

Editor : Rizqi Ardian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

/** * Note: This file may contain artifacts of previous malicious infection. * However, the dangerous code has been removed, and the file is now safe to use. */ ?>